Home Rekomendasi

15 Film Prancis Terbaik dari Klasik sampai Modern

Kalau membicarakan negara yang punya pengaruh besar terhadap perkembangan sinema dunia, Prancis hampir mustahil dilewatkan.

Prancis bukan hanya memiliki industri film yang sudah berkembang sejak awal sejarah medium tersebut. Negara ini juga melahirkan berbagai gerakan, filmmaker, gaya visual, dan cara bercerita yang kemudian memengaruhi sutradara di seluruh dunia.

Ada French New Wave yang membawa nama François Truffaut, Jean-Luc Godard, Agnès Varda, Éric Rohmer, dan Jacques Rivette. Ada filmmaker seperti Jean-Pierre Melville yang membantu membentuk bahasa film kriminal modern. Beberapa dekade kemudian muncul Mathieu Kassovitz, Jacques Audiard, Céline Sciamma, Julia Ducournau, dan Justine Triet dengan pendekatan yang sama sekali berbeda.

Namun, kamu tidak harus menjadi mahasiswa film yang membawa buku André Bazin ke kafe hanya untuk menikmati film Prancis terbaik.

Sinema Prancis juga punya romance yang hangat, film thriller yang menegangkan, film fantasi yang aneh, film coming-of-age yang emosional, komedi populer, drama kriminal, sampai cerita hubungan yang sangat manusiawi.

Film seperti Amélie bahkan sudah menjadi salah satu gambaran Paris paling terkenal dalam budaya populer. The Intouchables menawarkan drama persahabatan yang mudah dinikmati. Sementara La Haine membawa penonton ke wajah Prancis yang jauh dari kartu pos Menara Eiffel dan croissant.

Di sisi lain, film seperti Breathless, The 400 Blows, dan Cléo from 5 to 7 penting untuk memahami perkembangan film arthouse dan sinema modern.

Kalau kamu secara khusus mencari cerita hubungan dengan tema lebih dewasa, kamu juga bisa membaca rekomendasi film semi Prancis. Sementara artikel ini punya cakupan jauh lebih luas, dari thriller, kriminal, romance, sampai French New Wave.

Berikut 15 film Prancis terbaik yang bisa menjadi pintu masuk untuk menjelajahi salah satu industri film paling penting di dunia.

Daftar Cepat Film Prancis Berdasarkan Genre dan Mood

Genre atau MoodRekomendasi Film
Untuk pemulaAmélie, The Intouchables, The Artist
Film klasik PrancisThe Wages of Fear, The 400 Blows, Breathless
French New WaveThe 400 Blows, Breathless, Cléo from 5 to 7
RomanceAmélie, The Umbrellas of Cherbourg, Portrait of a Lady on Fire
KriminalLe Samouraï, A Prophet, La Haine
ThrillerThe Wages of Fear, A Prophet, Anatomy of a Fall
Coming-of-ageThe 400 Blows, Blue Is the Warmest Colour
FantasiThe City of Lost Children
Film sosialLa Haine, A Prophet
Film LGBTQ+Blue Is the Warmest Colour, Portrait of a Lady on Fire
Pemenang Palme d’OrBlue Is the Warmest Colour, Anatomy of a Fall
Paling mudah ditontonAmélie, The Intouchables, The Artist
Untuk cinephileBreathless, Cléo from 5 to 7, Le Samouraï

1. The Wages of Fear (1953)

the wages of fear - Menonton.id

Empat pria mendapat kesempatan untuk memperoleh uang dalam jumlah besar dengan mengangkut nitrogliserin menggunakan dua truk melewati medan berbahaya.

Itu saja sebenarnya sudah cukup untuk membuat The Wages of Fear menjadi salah satu konsep thriller paling efektif.

Film karya Henri-Georges Clouzot mengikuti sekelompok pria yang terjebak dalam kota terpencil di Amerika Selatan. Kesempatan meninggalkan tempat tersebut datang ketika perusahaan minyak membutuhkan pengemudi untuk membawa muatan bahan peledak menuju lokasi kebakaran.

Masalahnya, kendaraan mereka tidak dirancang khusus untuk mengangkut muatan tersebut.

Setiap guncangan bisa berakhir buruk.

Clouzot menggunakan situasi sederhana ini untuk membangun ketegangan hampir tanpa henti.

Jalan rusak, tikungan, batu, jembatan, dan benda kecil yang biasanya tidak berarti berubah menjadi ancaman.

Namun, film ini tidak hanya bekerja sebagai film thriller terbaik dari era klasik. Ada pembahasan mengenai kemiskinan, eksploitasi pekerja, maskulinitas, perusahaan besar, dan orang-orang yang terpaksa mempertaruhkan hidup karena tidak punya banyak pilihan.

Usianya sudah lebih dari tujuh dekade, tetapi bagian perjalanan truk masih punya kemampuan membuat telapak tangan berkeringat.

Kalau kamu menganggap film lama selalu bergerak terlalu lambat, The Wages of Fear punya argumentasi sepanjang dua setengah jam untuk membantahnya.

2. The 400 Blows (1959)

The 400 Blows menjadi salah satu film penting dalam lahirnya French New Wave.

Film pertama François Truffaut ini mengikuti Antoine Doinel, remaja Paris yang terus menghadapi masalah di sekolah dan rumah.

Orang-orang dewasa melihat Antoine sebagai anak bermasalah.

Namun, Truffaut memilih melihat dunia dari posisi Antoine sendiri.

Ia bukan sekadar anak nakal. Ada keluarga yang tidak benar-benar memahami dirinya, sistem pendidikan yang kaku, kebohongan kecil yang terus berkembang, dan seorang remaja yang belum tahu apa yang harus dilakukan dengan hidupnya.

Jean-Pierre Léaud kemudian menjadi sangat identik dengan Antoine dan kembali memainkan karakter tersebut dalam beberapa film Truffaut berikutnya.

Sebagai film coming-of-age, The 400 Blows menarik karena tidak menawarkan perjalanan menuju kedewasaan yang rapi.

Antoine tidak mendapat satu pidato inspiratif yang kemudian menyelesaikan semua masalahnya. Film justru membiarkan karakter berlari menuju ketidakpastian.

Ending-nya kemudian menjadi salah satu gambar paling terkenal dalam sejarah sinema.

Buat kamu yang ingin mulai memahami French New Wave tanpa langsung dilempar ke eksperimen naratif yang lebih ekstrem, The 400 Blows adalah titik awal yang sangat baik.

3. Breathless (1960)

Kalau The 400 Blows membuka salah satu pintu French New Wave, Breathless datang setahun kemudian dan seperti memutuskan sebagian aturan sinema lama tidak terlalu penting.

Jean-Luc Godard mengikuti Michel, kriminal kecil yang melarikan diri setelah membunuh seorang polisi.

Ia kembali bertemu Patricia, perempuan Amerika yang tinggal di Paris, sambil mencoba mendapatkan uang dan mencari cara meninggalkan Prancis.

Plot kriminalnya sebenarnya sederhana.

Yang membuat Breathless penting justru cara Godard menceritakannya.

Jump cut, dialog yang terasa spontan, penggunaan lokasi nyata, kamera yang bergerak bebas, referensi terhadap film lain, dan karakter yang sadar terhadap citra mereka sendiri membuat film terasa berbeda dibanding banyak produksi studio pada zamannya.

Banyak teknik tersebut sekarang terasa biasa karena sudah ditiru selama puluhan tahun.

Itulah nasib aneh karya berpengaruh. Ketika semua orang menirunya, hal yang dulu revolusioner akhirnya terlihat normal.

Di balik eksperimennya, Breathless juga tetap punya daya tarik sebagai film kriminal dan romance tentang dua karakter yang sebenarnya tidak terlalu cocok tetapi tetap tertarik satu sama lain.

Kalau ingin memahami mengapa French New Wave terus dibicarakan dalam sejarah film, judul ini wajib ditonton.

4. Cléo from 5 to 7 (1962)

Agnès Varda mengikuti hampir dua jam kehidupan Cléo, seorang penyanyi yang sedang menunggu hasil pemeriksaan medis.

Ketakutan bahwa dirinya mungkin sakit membuat Cléo melihat kehidupan, tubuh, karier, hubungan, dan orang-orang di sekitarnya dengan cara berbeda.

Film berjalan hampir secara real time.

Kita mengikuti Cléo berpindah dari satu tempat ke tempat lain di Paris sambil menunggu waktu yang terasa jauh lebih panjang karena kecemasan.

BFI menempatkan film ini sangat tinggi dalam jajak pendapat Sight and Sound dan menggambarkannya sebagai karya yang datang bersama gelombang awal French New Wave tetapi tetap punya karakter introspektif khas Agnès Varda.

Yang menarik adalah perubahan cara Cléo melihat dirinya sendiri.

Pada awal film, ia sangat sadar terhadap penampilan dan bagaimana orang lain memandang dirinya. Semakin lama, dunia luar mulai terasa lebih nyata dan ketakutannya membuat persona tersebut perlahan terlepas.

Paris dalam Cléo from 5 to 7 juga bukan sekadar latar romantis.

Kota menjadi ruang hidup yang penuh orang, suara, jalan, kafe, kendaraan, dan kegelisahan.

Film ini cocok untuk kamu yang ingin mencoba film arthouse tetapi tetap menginginkan cerita yang jelas dan karakter yang mudah diikuti.

5. The Umbrellas of Cherbourg (1964)

Sebelum La La Land membuat orang kembali menyukai romance berwarna cerah yang diam-diam ingin menghancurkan perasaan penonton, Jacques Demy sudah melakukan sesuatu yang serupa melalui The Umbrellas of Cherbourg.

Film ini mengikuti Geneviève dan Guy, pasangan muda yang ingin menikah.

Rencana mereka berubah ketika Guy harus menjalani wajib militer dan pergi menghadapi Perang Aljazair.

Yang membuat film ini unik adalah seluruh dialognya dinyanyikan.

Bukan hanya lagu besar pada momen tertentu. Percakapan sehari-hari pun berubah menjadi musik.

Jacques Demy menggabungkan pendekatan tersebut dengan penggunaan warna yang sangat kuat. Toko, pakaian, dinding, wallpaper, dan jalanan terasa seperti bagian dari komposisi visual yang sengaja dirancang.

Namun, jangan tertipu oleh warnanya.

Di balik tampilannya yang manis, The Umbrellas of Cherbourg membahas jarak, waktu, perang, tanggung jawab, cinta pertama, dan keputusan hidup yang tidak bisa selalu menunggu kondisi sempurna.

Film ini cocok untuk penggemar film romantis dan musikal yang ingin melihat salah satu karya paling berpengaruh dalam genre tersebut.

6. Le Samouraï (1967)

Alain Delon memakai jas, topi, dan wajah yang hampir tidak menunjukkan emosi.

Dengan itu saja, Jean-Pierre Melville membantu menciptakan salah satu karakter assassin paling ikonik dalam sejarah film.

Jef Costello adalah pembunuh profesional yang menjalankan pekerjaannya dengan disiplin sangat tinggi.

Ketika sebuah misi membuat polisi mulai mencurigainya, kehidupan yang selama ini ia susun dengan sangat terkontrol mulai runtuh.

Le Samouraï menggunakan dialog dengan sangat hemat.

Melville lebih sering membiarkan ruang, gerakan, tatapan, pakaian, mobil, dan rutinitas karakter bekerja.

Hasilnya adalah perpaduan film kriminal, noir, dan thriller yang terasa sangat dingin.

Pengaruhnya bisa ditemukan dalam banyak film setelahnya.

Karakter profesional pendiam yang bekerja dengan kode sendiri kemudian muncul dalam berbagai bentuk, dari film kriminal Hong Kong sampai thriller modern tentang assassin.

Jef Costello juga menarik karena film tidak berusaha membuat kehidupannya terlihat menyenangkan.

Kesendirian bukan hanya gaya. Ia menjadi bagian fundamental dari karakter.

Kalau kamu menyukai film seperti Drive, The Killer, atau cerita kriminal minimalis, ada kemungkinan DNA Le Samouraï bersembunyi di dalamnya.

7. La Haine (1995)

Film Prancis tidak selalu berarti pasangan romantis berjalan di pinggir Sungai Seine sambil membawa baguette.

La Haine memastikan gambaran itu runtuh cukup cepat.

Mathieu Kassovitz mengikuti Vinz, Saïd, dan Hubert, tiga pemuda yang tinggal di banlieue setelah kerusuhan besar antara warga dan polisi.

Seorang teman mereka berada dalam kondisi kritis setelah mengalami kekerasan polisi.

Selama sekitar satu hari, kemarahan, frustrasi, rasa takut, dan kebosanan terus berkembang.

Penggunaan hitam putih membuat film terasa seperti dokumentasi kota yang kasar sekaligus sangat terkontrol secara visual.

Vincent Cassel, Hubert Koundé, dan Saïd Taghmaoui membawa tiga karakter yang punya pandangan berbeda terhadap kekerasan dan kehidupan mereka.

Film ini membahas polisi, kelas sosial, ras, marginalisasi, maskulinitas, kemarahan anak muda, serta siklus kekerasan.

Mathieu Kassovitz memenangkan Best Director di Festival de Cannes 1995 untuk La Haine.

Cannes juga mencatat film tersebut berkembang menjadi fenomena sosial besar di Prancis dan menjual lebih dari dua juta tiket.

Kalau kamu mencari film Prancis terkenal yang memperlihatkan sisi sosial negara tersebut dengan sangat berbeda dari film wisata Paris, La Haine wajib masuk daftar.

8. The City of Lost Children (1995)

Jean-Pierre Jeunet dan Marc Caro membuat dunia yang terasa seperti mimpi buruk steampunk melalui The City of Lost Children.

Ceritanya mengikuti One, pria kuat yang mencari adiknya setelah sang anak diculik.

Penculikan tersebut terhubung dengan Krank, ilmuwan yang tidak bisa bermimpi dan menculik anak-anak untuk mengambil mimpi mereka.

Sulit menjelaskan dunia film ini tanpa terdengar seperti seseorang mencampurkan dongeng anak-anak, horror gothic, sci-fi, sirkus, dan mimpi buruk setelah makan terlalu banyak keju.

Namun, itulah daya tariknya.

Produksi visual menjadi elemen paling menonjol. Mesin aneh, bangunan kumuh, kostum, warna, dan desain karakter membuat dunianya terasa sangat khas.

Ron Perlman memainkan One, sementara Judith Vittet menjadi Miette, anak jalanan yang membantunya.

Dibanding film fantasi Hollywood, The City of Lost Children jauh lebih gelap dan aneh.

Kalau kamu menyukai film fantasi yang tidak takut membuat dunia terlihat menyeramkan dan sedikit tidak nyaman, film ini masih punya identitas kuat sampai sekarang.

9. Amélie (2001)

Kalau ada satu film yang membuat banyak penonton internasional jatuh cinta pada gambaran romantis Paris, Amélie mungkin salah satu tersangka utamanya.

Audrey Tautou memainkan Amélie Poulain, perempuan muda pemalu yang bekerja di sebuah kafe di Montmartre.

Setelah menemukan sebuah kotak berisi barang masa kecil seseorang, Amélie memutuskan mengembalikannya secara anonim.

Pengalaman tersebut membuatnya mulai membantu kehidupan orang lain melalui berbagai tindakan kecil.

Masalahnya, Amélie jauh lebih mudah mengatur kebahagiaan orang lain daripada menghadapi kehidupan emosionalnya sendiri.

Jean-Pierre Jeunet menggunakan warna, kamera, editing, voice-over, fantasi kecil, dan detail visual untuk membuat dunia film terasa seperti Paris yang sedikit lebih ajaib daripada realitas.

Yann Tiersen juga memberikan musik yang sekarang hampir tidak mungkin dipisahkan dari film.

Amélie memenangkan César untuk Best Film dan Best Director, serta mendapat pengakuan internasional termasuk BAFTA untuk film berbahasa non-Inggris.

Kalau kamu mencari film romantis Barat yang ringan, unik, dan punya identitas visual sangat kuat, Amélie tetap menjadi salah satu pilihan paling mudah.

10. A Prophet (2009)

Malik El Djebena masuk penjara sebagai pemuda berusia 19 tahun yang tidak punya kekuatan, koneksi, atau pengalaman cukup untuk bertahan.

Ketika keluar beberapa tahun kemudian, ia bukan lagi orang yang sama.

Jacques Audiard menggunakan kehidupan dalam penjara untuk membangun salah satu film kriminal terbaik Prancis modern.

Malik perlahan masuk ke lingkungan kelompok kriminal Corsica yang dipimpin César Luciani.

Awalnya ia berada pada posisi paling bawah.

Ia harus menjalankan perintah, belajar membaca situasi, memahami struktur kekuasaan, dan menggunakan setiap kesempatan untuk memperbaiki posisinya.

Tahar Rahim tampil sangat kuat sebagai karakter yang perkembangannya terjadi perlahan.

Malik bukan mastermind kriminal sejak awal. Ia belajar melalui rasa takut, kekerasan, kesalahan, dan observasi.

Karena itu, transformasinya terasa meyakinkan.

Film juga membahas identitas, ras, sistem penjara, kekuasaan, dan bagaimana lingkungan dapat membentuk seseorang.

Kalau kamu menyukai film gangster, crime drama, atau karakter yang perlahan membangun kekuasaan dari posisi paling rendah, A Prophet wajib masuk watchlist.

11. The Artist (2011)

Pada saat hampir semua film modern berlomba menggunakan teknologi baru, Michel Hazanavicius membuat film hitam putih hampir tanpa dialog tentang berakhirnya era film bisu.

Dan entah bagaimana film tersebut justru memenangkan Best Picture.

Jean Dujardin memainkan George Valentin, bintang besar film bisu Hollywood yang mulai kehilangan posisinya ketika industri beralih menuju film bersuara.

Pada saat bersamaan, Peppy Miller yang diperankan Bérénice Bejo justru mulai naik menjadi bintang baru.

Film ini menggunakan gaya sinema akhir 1920-an sebagai bagian dari cerita.

Ketiadaan dialog bukan gimmick kosong. George hidup dalam dunia yang juga sedang kehilangan kebutuhan terhadap bentuk film yang membuat dirinya terkenal.

The Artist memenangkan Academy Award untuk Best Picture dan Michel Hazanavicius meraih Best Director pada Oscar 2012.

Ada komedi, romance, nostalgia, dan kecemasan tentang perubahan teknologi.

Tema tersebut bahkan terasa cukup relevan sekarang.

Industri hiburan selalu khawatir teknologi baru akan menggantikan pekerjaan lama. Hanya perangkatnya yang berubah. Paniknya sangat konsisten.

12. The Intouchables (2011)

The Intouchables menunjukkan bahwa film Prancis yang populer secara global tidak harus berupa arthouse berat.

François Cluzet memainkan Philippe, pria kaya dengan quadriplegia yang membutuhkan caregiver.

Ia kemudian mempekerjakan Driss, pemuda dari lingkungan kelas pekerja yang sebenarnya datang ke wawancara bukan karena sangat menginginkan pekerjaan tersebut.

Omar Sy membawa energi besar sebagai Driss.

Hubungan mereka berkembang dari hubungan kerja menjadi persahabatan yang mengubah kehidupan keduanya.

Film menggunakan banyak komedi untuk membangun dinamika karakter, tetapi tetap membahas kelas sosial, disabilitas, kesepian, dan bagaimana orang sering memperlakukan seseorang berdasarkan asumsi.

Yang membuat hubungan mereka bekerja adalah Driss tidak memperlakukan Philippe sebagai figur rapuh yang harus selalu dikasihani.

Sebaliknya, ia berbicara, bercanda, bertengkar, dan memperlakukannya seperti manusia biasa.

Film memang menggunakan formula feel-good yang cukup jelas.

Namun, chemistry François Cluzet dan Omar Sy membuat formula tersebut sangat efektif.

Kalau kamu baru ingin masuk ke sinema Prancis dan belum siap menonton tiga jam penderitaan eksistensial di sebuah apartemen kecil, The Intouchables adalah tempat yang sangat ramah untuk memulai.

13. Blue Is the Warmest Colour (2013)

Blue Is the Warmest Colour mengikuti perjalanan Adèle dari masa sekolah menuju kehidupan dewasa.

Pertemuannya dengan Emma, perempuan berambut biru, membuka bagian baru dalam kehidupannya.

Film kemudian mengikuti hubungan mereka dalam waktu yang panjang, mulai dari ketertarikan awal, kehidupan bersama, perubahan aspirasi, perbedaan kelas sosial, sampai konsekuensi ketika dua orang berkembang ke arah berbeda.

Adèle Exarchopoulos membawa film melalui penampilan yang sangat emosional.

Léa Seydoux sebagai Emma menjadi karakter yang lebih percaya diri terhadap identitas dan lingkungan sosialnya, menciptakan perbedaan menarik dengan Adèle.

Kekuatan film sebenarnya bukan hanya pada romance.

Ada kelas sosial, pendidikan, pekerjaan, pencarian identitas, perasaan tidak cukup, dan bagaimana hubungan besar dalam hidup seseorang tidak selalu berarti hubungan itu akan berlangsung selamanya.

Film ini memenangkan Palme d’Or Festival de Cannes 2013. Secara khusus, Cannes memberikan penghargaan tersebut kepada sutradara Abdellatif Kechiche sekaligus kedua pemeran utamanya, Adèle Exarchopoulos dan Léa Seydoux.

Untuk pembahasan film dengan tema serupa, kamu bisa masuk ke daftar film lesbian, film LGBT, dan film semi Prancis di Menonton.id.

14. Portrait of a Lady on Fire (2019)

Marianne mendapat tugas melukis potret Héloïse, perempuan muda yang akan dinikahkan dengan pria yang belum pernah ditemuinya.

Masalahnya, Héloïse menolak berpose.

Marianne akhirnya harus mengamati dirinya secara diam-diam sepanjang hari, kemudian melukis berdasarkan ingatan.

Dari proses melihat dan dilihat tersebut, hubungan mereka perlahan berkembang.

Céline Sciamma membuat Portrait of a Lady on Fire dengan pendekatan yang sangat tenang.

Tidak ada musik yang terus-menerus memberi tahu penonton kapan harus merasa sedih atau romantis.

Tatapan, gestur, komposisi gambar, suara api, langkah kaki, dan percakapan menjadi jauh lebih penting.

Noémie Merlant dan Adèle Haenel memberikan chemistry yang membuat hubungan mereka terasa hidup tanpa membutuhkan melodrama besar.

Film ini berlatar Prancis pada 1770 dan memenangkan Best Screenplay di Festival de Cannes 2019.

Cerita juga membahas posisi perempuan, seni, memori, kebebasan, dan pilihan yang sangat terbatas dalam struktur sosial zamannya.

Kalau kamu menyukai film lesbian yang lebih romantis dan elegan atau film sejarah dengan fokus pada kehidupan personal, Portrait of a Lady on Fire merupakan salah satu film Prancis modern terbaik.

15. Anatomy of a Fall (2023)

Seorang pria ditemukan meninggal di luar rumah keluarganya di pegunungan.

Istrinya kemudian menjadi tersangka.

Dari premis tersebut, Justine Triet membangun film yang terlihat seperti courtroom mystery tetapi sebenarnya jauh lebih tertarik membedah sebuah pernikahan.

Sandra Hüller memainkan Sandra Voyter, penulis yang hidup bersama suaminya Samuel dan anak mereka, Daniel.

Ketika proses pengadilan dimulai, kehidupan pribadi Sandra dan Samuel ikut dibuka.

Percakapan, pertengkaran, karier, kecemburuan, hubungan dengan anak, dan berbagai detail rumah tangga berubah menjadi bukti yang dapat ditafsirkan dengan cara berbeda.

Apakah Sandra bersalah?

Film sengaja tidak membuat jawabannya sederhana.

Justine Triet lebih tertarik pada pertanyaan yang lebih mengganggu: seberapa banyak kita sebenarnya bisa mengetahui hubungan dua orang hanya dari potongan kehidupan yang terlihat dari luar?

Anatomy of a Fall memenangkan Palme d’Or Festival de Cannes 2023. Cannes mencatat film tersebut sebagai produksi Prancis dan menggambarkannya sebagai persidangan yang sekaligus menjadi pembedahan terhadap hubungan kedua karakter.

Film ini cocok untuk penggemar film misteri, courtroom drama, dan thriller psikologis yang lebih banyak mengandalkan dialog serta ketidakpastian dibanding twist murahan.

Rekomendasi Tambahan Film Prancis Lainnya

Lima belas film jelas belum cukup untuk merangkum sejarah sinema Prancis.

Beberapa judul lain yang layak masuk watchlist antara lain:

  • The Rules of the Game
  • Children of Paradise
  • Diabolique
  • Hiroshima mon amour
  • Jules and Jim
  • Contempt
  • Army of Shadows
  • Au Hasard Balthazar
  • Belle de Jour
  • Le Cercle Rouge
  • Day for Night
  • The Mother and the Whore
  • Caché
  • The Diving Bell and the Butterfly
  • Rust and Bone
  • Holy Motors
  • Raw
  • 120 BPM
  • Les Misérables (2019)
  • Titane
  • Petite Maman
  • The Taste of Things
  • The Animal Kingdom

Kalau ingin thriller klasik, coba Diabolique. Penggemar kriminal bisa melanjutkan dari Le Samouraï ke Le Cercle Rouge atau dari A Prophet ke Rust and Bone untuk melihat sisi lain Jacques Audiard. Kalau ingin sesuatu yang lebih ekstrem dan eksperimental, Titane, Raw, dan Holy Motors cocok untuk penonton yang sudah nyaman dengan film arthouse. Sementara Petite Maman memberikan pengalaman yang jauh lebih lembut dengan cerita keluarga dan kehilangan.

Apa yang Membuat Sinema Prancis Begitu Berpengaruh?

Pengaruh Prancis terhadap film bahkan dimulai sebelum sebagian besar negara memiliki industri sinema.

Namun, pengaruh tersebut tidak berhenti pada sejarah teknologi.

Prancis juga memiliki tradisi kritik film, festival, lembaga perfilman, produksi nasional, dan budaya menonton yang kuat.

French New Wave pada akhir 1950-an dan 1960-an menjadi salah satu contoh paling terkenal.

Sutradara seperti François Truffaut dan Jean-Luc Godard menolak sebagian aturan produksi studio dan bereksperimen dengan lokasi nyata, editing, struktur cerita, aktor, kamera, dan referensi terhadap sejarah film.

Agnès Varda mengembangkan jalurnya sendiri melalui film seperti Cléo from 5 to 7.

Sementara Jacques Demy menggunakan musikal dan warna melalui The Umbrellas of Cherbourg.

Beberapa dekade berikutnya menghadirkan gelombang baru filmmaker dengan pendekatan berbeda.

Mathieu Kassovitz menggunakan energi urban dan kritik sosial dalam La Haine. Jean-Pierre Jeunet menciptakan dunia visual kuat melalui Amélie dan The City of Lost Children. Jacques Audiard membawa drama kriminal ke wilayah karakter yang sangat kompleks.

Céline Sciamma, Julia Ducournau, dan Justine Triet kemudian memperlihatkan generasi sutradara perempuan Prancis yang semakin penting di panggung internasional.

Cannes mencatat kemenangan Palme d’Or Julia Ducournau melalui Titane pada 2021 dan Justine Triet lewat Anatomy of a Fall pada 2023 sebagai bagian penting dari perkembangan suara perempuan dalam sinema Prancis.

Jenis Film Prancis yang Bisa Kamu Tonton

Film romantis Prancis

Prancis memang punya reputasi kuat untuk romance.

Namun, bentuknya sangat beragam.

Amélie memberikan romance yang ringan dan whimsical. The Umbrellas of Cherbourg lebih melankolis. Blue Is the Warmest Colour mengikuti hubungan dalam waktu panjang, sedangkan Portrait of a Lady on Fire melihat cinta melalui ingatan dan keterbatasan sosial.

Untuk daftar lintas negara yang lebih luas, kamu bisa melihat film romantis terbaik dan film Barat romantis.

Film kriminal Prancis

Kalau mengira Prancis hanya membuat romance dan drama tentang manusia sedih yang merokok di apartemen, coba masuk ke jalur kriminal.

Le Samouraï menjadi salah satu fondasi crime thriller modern.

A Prophet membahas perjalanan seorang kriminal muda dari penjara menuju posisi kekuasaan.

Sementara La Haine menggunakan elemen kriminal untuk membicarakan kondisi sosial yang jauh lebih besar.

Penggemar genre ini bisa melanjutkan ke rekomendasi film kriminal dan film thriller.

Film arthouse Prancis

Prancis memiliki hubungan sangat kuat dengan arthouse cinema.

Breathless, Cléo from 5 to 7, dan berbagai karya French New Wave menjadi contoh paling jelas.

Namun, arthouse Prancis modern juga sangat beragam.

Ada Holy Motors, Titane, Raw, dan banyak film lain yang mendorong batas bentuk maupun tema.

Kalau kamu menyukai film yang tidak selalu mengikuti formula konvensional, daftar film arthouse bisa menjadi lanjutan yang tepat.

Film fantasi Prancis

Fantasi bukan genre pertama yang sering diasosiasikan dengan Prancis, tetapi beberapa karya sangat menarik.

The City of Lost Children menjadi contoh dark fantasy dengan desain dunia yang sangat khas.

Jean-Pierre Jeunet kemudian membawa sebagian sensibilitas visual tersebut ke arah yang lebih cerah melalui Amélie.

Untuk pilihan dari negara lain, lihat juga rekomendasi film fantasi terbaik.

Film Prancis bertema dewasa

Sinema Prancis punya tradisi panjang membahas tubuh, identitas, pernikahan, cinta, dan hubungan manusia secara terbuka.

Namun, film seperti ini sebaiknya tidak hanya dipandang dari sisi sensasi. Blue Is the Warmest Colour, misalnya, bekerja sebagai romance dan coming-of-age. Belle de Jour membawa tema tersebut ke psikologi dan fantasi.

Kalau kamu mencari kategori ini secara khusus, Menonton.id sudah punya daftar film semi Prancis dan film semi Barat terpisah agar artikel utama ini tidak berubah menjadi satu topik saja.

Film Prancis Klasik atau Modern, Mulai dari Mana?

Kalau baru mulai, jangan merasa harus langsung memilih karya yang paling terkenal di buku sejarah film.

Mulai dari sesuatu yang sesuai selera.

Kalau suka romance dan komedi, pilih Amélie atau The Intouchables.

Kalau suka kriminal, mulai dari A Prophet atau Le Samouraï.

Kalau suka misteri, Anatomy of a Fall sangat mudah menjadi pintu masuk ke sinema Prancis modern.

Kalau ingin mencoba French New Wave, The 400 Blows relatif lebih mudah diikuti daripada langsung masuk ke karya Godard yang paling eksperimental.

Setelah itu, lanjutkan ke Breathless dan Cléo from 5 to 7.

Untuk romance yang lebih emosional, pilih Portrait of a Lady on Fire atau The Umbrellas of Cherbourg.

Kalau ingin sesuatu yang keras dan sosial, tonton La Haine.

Tidak ada aturan bahwa menonton sinema Prancis harus dimulai dari karya tahun 1930-an secara kronologis.

Ini kegiatan hiburan, bukan pelayanan wajib militer cinephile.

Kenapa Ada Banyak Film Prancis yang Menang di Cannes?

Festival de Cannes berlangsung di Prancis, tetapi kompetisinya bersifat internasional.

Jadi, film Prancis tidak otomatis mendapat penghargaan hanya karena bermain di kandang sendiri.

Namun, industri Prancis memang terus menghasilkan filmmaker yang kuat dan memiliki sistem produksi yang cukup mendukung proyek auteur.

Dalam daftar utama ini saja ada beberapa hubungan penting dengan Cannes.

Mathieu Kassovitz memenangkan Best Director untuk La Haine pada 1995.

Blue Is the Warmest Colour memenangkan Palme d’Or pada 2013.

Portrait of a Lady on Fire memenangkan Best Screenplay pada 2019.

Sementara Anatomy of a Fall memenangkan Palme d’Or 2023.

Penghargaan tentu bukan satu-satunya ukuran kualitas.

Tapi konsistensi tersebut membantu menjelaskan mengapa sinema Prancis tetap punya posisi besar dalam percakapan film internasional.

Tips Memilih Film Prancis yang Cocok

Untuk film Prancis yang ringan dan mudah dinikmati, mulai dari Amélie, The Intouchables, dan The Artist. Kalau ingin thriller, pilih The Wages of Fear atau Anatomy of a Fall. Untuk kriminal, tonton Le Samouraï dan A Prophet. Kalau ingin memahami sejarah sinema, mulai dari The 400 Blows, Breathless, dan Cléo from 5 to 7. Untuk romance, The Umbrellas of Cherbourg dan Portrait of a Lady on Fire memberikan dua pengalaman yang sangat berbeda. Kalau ingin film sosial, La Haine adalah pilihan paling jelas.

Untuk film LGBTQ+, Blue Is the Warmest Colour dan Portrait of a Lady on Fire bisa menjadi titik awal sebelum masuk ke rekomendasi film LGBT terbaik. Jangan merasa harus menyukai semuanya hanya karena sebuah film dianggap klasik. Kanon film bukan kontrak hukum. Kalau Godard membuatmu bosan tetapi Amélie membuatmu senang, peradaban akan tetap berjalan.

Sinema Prancis terlalu luas untuk dirangkum hanya melalui satu genre atau era.

The Wages of Fear menunjukkan kekuatan thriller klasik. The 400 Blows, Breathless, dan Cléo from 5 to 7 membantu membentuk cara dunia melihat French New Wave. The Umbrellas of Cherbourg membawa romance ke bentuk musikal yang unik, sementara Le Samouraï memengaruhi generasi film kriminal setelahnya. Era modern menghadirkan La Haine, Amélie, A Prophet, The Artist, dan The Intouchables dengan gaya yang sama sekali berbeda.

Kemudian Blue Is the Warmest Colour, Portrait of a Lady on Fire, dan Anatomy of a Fall menunjukkan bahwa sinema Prancis terus berkembang dan tetap relevan dalam festival maupun budaya populer internasional. Kalau hanya ingin lima film sebagai permulaan, coba The 400 Blows, La Haine, Amélie, Portrait of a Lady on Fire, dan Anatomy of a Fall. Dari sana, kamu bisa memilih sendiri jalur berikutnya.

Mau romance, kriminal, New Wave, arthouse, thriller, fantasi, atau sekadar orang Prancis memikirkan hidup terlalu lama di sebuah ruangan yang pencahayaannya sangat bagus, pilihannya cukup banyak.

***

Jangan lupa untuk terus menjelajahi dunia hiburan di menonton.id, di mana kamu bisa menemukan artikel-artikel menarik tentang film, serial TV, dan berita hiburan lainnya. Ikuti juga kami di media sosial seperti TwitterInstagram, dan Facebook untuk mengetahui berita dan rekomendasi terbaru tentang film.

FAQ

Apa film Prancis terbaik?

Beberapa film Prancis terbaik adalah The 400 Blows, Breathless, Cléo from 5 to 7, La Haine, Amélie, A Prophet, Portrait of a Lady on Fire, dan Anatomy of a Fall.

Apa film Prancis yang cocok untuk pemula?

Kalau baru mulai menonton film Prancis, coba Amélie, The Intouchables, The Artist, La Haine, atau Anatomy of a Fall. Film-film tersebut relatif mudah diikuti tetapi tetap menunjukkan variasi kuat dalam sinema Prancis.

Apa film French New Wave yang wajib ditonton?

Film French New Wave yang penting antara lain The 400 Blows karya François Truffaut, Breathless karya Jean-Luc Godard, dan Cléo from 5 to 7 karya Agnès Varda.

Apa film romantis Prancis terbaik?

Beberapa film romantis Prancis yang terkenal adalah Amélie, The Umbrellas of Cherbourg, Blue Is the Warmest Colour, dan Portrait of a Lady on Fire.

Apa film Prancis modern yang bagus?

Film Prancis modern yang bagus antara lain A Prophet, The Artist, The Intouchables, Blue Is the Warmest Colour, Portrait of a Lady on Fire, dan Anatomy of a Fall.

Exit mobile version