Review Devs: Sebuah Sajian Filosofis yang Indah

0
307
devs-2020

Sulit untuk membuat review Devs (2020) jika tidak membahas tema besar series ini. Karena, bukan hanya hal teknis, gambaran besar dari cerita karya Alex Garland ini luar biasa.

Jika kamu bosan dengan serial yang itu-itu saja, yang hanya menghibur, yang hanya bercerita tanpa mengajak berdiskusi, maka Devs adalah pilihan tepat.

Devs menawarkan banyak hal dari segi teknis maupun cerita. Tidak seperti kebanyakan acara tv lainnya, miniseries ini membuat para penontonnya berpikir dan bertanya akan tujuan dari eksistensi manusia di dunia.

Series ini sangat pintar dalam menyajikan pertanyaan-pertanyaan filosofis. Saking pintarnya, terkadang kita yang menontonnya akan merasa seperti tampak bodoh. Walaupun, series ini tidak membodohi.

Determinisme versus free will

devs-2020

Pertanyaan terbesar dalam film ini adalah tentang determinisme versus kebebasan memilih (free will).

Apakah hidup ini merupakan sebuah rangkaian dari alasan, atau sebuah pilihan bebas? Apakah kehidupan dibentuk hal yang dilakukan sebelumnya, atau kita bebas membentuk kehidupan sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya berkembang menjadi sebuah pertanyaan untuk banyak hal. Mulai dari hidup, mati, ilmu, agama, dan lainnya.

Devs sendiri berkisah tentang seorang ilmuan kaya raya, Forest (Nick Offerman), yang membangun sebuah perusahaan teknologi bernama Amaya. Di dalam perusahaannya tersebut ia membuat sebuah kelompok divisi yang dinamakan Devs.

Mereka yang masuk ke dalam Devs, boleh membawa informasi dari luar dan sebaliknya. Apa yang terjadi di dalam Devs, tetap di Devs. Menjadikan tidak ada seorang pun yang tahu apa yang Devs kembangkan atau kerjakan.

Suatu hari, salah seorang engineer muda dipromosikan untuk masuk ke dalam Devs. Saat sudah bergabung, ia menyadari apa yang dibuat oleh Devs, lalu mencoba untuk mencuri kode-nya.

Namun, ia kemudian di bunuh. Kekasihnya, Lily Chan (Sonoya Mizuno), harus mencari tahu apa penyebab tewasnya sang kekasih.

Lambat, tapi indah

devs-2020

Akan objektif untuk membuat review Devs saat bicara bahwa series ini kemungkinan besar tidak disukai banyak orang. Bagaimana tidak, setiap episode Devs sendiri dibuat dengan pace yang lambat. Sangat lambat.

Untuk sebagian besar penikmat acara TV yang menginginkan aksi di setiap adegannya, tentu Devs bukan pilihan tepat.

Hanya saja, pace lambat tersebut tidak terasa sia-sia. Karena semuanya tejalin dengan sangat apik dan memiliki tujuan yang jelas.

Ditambah akting keren dari Nick Offerman, Alison Pill, Sonoya Mizuno, dan Zach Grenier, pace tersebut bukanlah sebuah kelemahan. Justru, lambatnya setiap adegan memberikan banyak waktu penonton untuk bernapas dan bertanya akan cerita yang sedang dibangun.

Selain juga membuat cerita terasa lebih menegangkan di setiap adegannya.

Tidak hanya akting dan penyajiannya yang baik, sinematografi dan set production-nya juga patut diacungi jempol.

Kita bisa melihat bagaimana indahnya bangunan Devs, yang didesain oleh Forest. Futuristik, indah, minimalis, sekaligus juga rapuh dan menakutkan.

Visualnya juga membuat kita takjub, dengan menangkap keindahan-keindahan dari desain sederhana, maupun lanskap indah San Francisco. Membuat kita lupa bahwa kita sedang menonton sebuah acara TV, bukan film.

devs-2020

Terakhir, Devs bukanlah miniseries untuk kebanyakan orang. Ada terlalu banyak hal yang ditawarkan, dan yang ditawarkan adalah hal rumit. Jauh dari kata menghibur.

Tapi, sama seperti beragam karya lainnya seperti Ex-Machina (2014) dan Annihilation (2018), Garland mengajak kita untuk bertanya lebih jauh, menantang pikiran, melihat kehidupan dari sisi lain.

Jika kalian memang menyukai sebuah sajian science fiction yang mengajak kita berpikir tentang kehidupan, Devs tentu tidak boleh dilewatkan.

devs-menonton.id

***

Dapatkan beragam review film dan TV series favoritmu di menonton.id.