Review Emily in Paris Season 1: Fiksi dan Fantasi Anak Agensi di Paris

0
102
emily in paris - review

Review Emily in Paris season 1 | Genre: Comedy-drama, Romantic Comedy Pemain: Lily Collins, Philippine Leroy-Beaulieu, Ashley Park, Camille Razat Studio: Netflix Rilis: 2 Oktober 2020

***

Sinopsis Emily in Paris season 1

emily in paris - review

Sinopsis Emily in Paris sebenarnya cukup sederhana dan sangat menggambarkan genre yang diusungnya.

Emily, seorang perempuan dari Chicago, Amerika Serikat berusia 20 tahunan pindah ke Paris untuk sebuah pekerjaan yang tidak terencana. Ia diminta untuk membawa sudut pandang Amerika Serikat untuk sebuah perusahaan marketing tua di Perancis.

Perbedaan kultur terasa jelas ketika ia harus menyesuaikan diri dari tantangan hidup di sebuah kota yang asing baginya. Ditambahlagi juga keharusannya untuk mengembangkan karier, menjaga pertemanan, dan juga kisah cintanya.

Fantasi para anak agensi yang tentu saja fiksi

emily in paris - review

Dari 10 episode di season pertama ini, bisa dibilang kehidupan Emily sungguhlah jauh dari kenyataan. Ia adalah seorang marketing executive yang juga seorang influencer yang kehidupannya tidak berbeda di media sosial maupun di dunia nyatanya.

Dari sana saja kita bisa menilai bahwa film ini jelas meromantisasi banyak hal tentang dunia marketing millenial dan juga fenomena influencer di media sosial.

Dalam serial ini kita bisa melihat tampilan anak agensi yang tampaknya tidak pernah kerja (atau kerjanya gampang banget), padahal pada kenyataannya lembur gak pernah berenti. Karena ngejar deadline dari klien.

Hal lain yang cukup menggangu sebenarnya adalah bagaimana serial ini terasa sangat American-centric. Terlihat dari lebih banyaknya jokes atau sindiran dari sudut pandang orang AS terhadap orang Perancis.

Well, memang sudut pandang yang diambil adalah milik Emily, tapi sebenarnya jokes dan juga dialog lain sebenarnya bisa mengakomodir kedua budaya. Saling sindir, ledek, dan menjadikan budaya sebagai bahan bercanda akan menjadi sebuah sajian yang asyik, jika tidak berat sebelah.

Contoh jokes dua budaya berbeda bisa terasa saling mengisi satu sama lain baru-baru ini bisa dinikmati di Ted Lasso. Di mana pelatih American Football terbang ke Inggris untuk melatih klub sepakbola di Premier League.

Tapi, bukan berarti review Emily in Paris ini bilang bahwa tidak layak ditonton. Justru sebaliknya. Ada sebuah hal yang sangat menarik dari Emily in Paris yang membuat kita tidak bisa berhenti menontonnya.

Kisahnya sangat ringan, beragam hal di dalamnya sangat relatable dengan kehidupan anak muda zaman sekarang, dan di setiap episodenya hampir tidak ada konflik yang terlalu rumit.

Kisahnya memang tampak penuh fantasi, tapi tidak terlalu dramatis. Joke di dalamnya terasa seksual, tapi tidak murahan.

Di episode pertama tampak serial ini tidak menjanjikan. Tapi seiring berjalannya cerita, penonton seakan diajak untuk terus mengikuti kisahnya. Terhibur. Menyenangkan.

Tidak mengherankan karena memang hal yang dijual dari serial ini hanyalah gambaran Paris yang memang cantik, permainan kata-kata yang konyol, beragam baju menarik yang digunakan para karakternya, dan tentu saja kecantikan Lily Collins; yang berakting sangat pas sebagai Emily.

Kisah ringan yang menggambarkan fantasi hidup sebagai anak agensi, tentu sangat menyenangkan untuk ditonton; untuk sejenak kabur dari kepenatan hidup sebagai anak agensi di dunia nyata.

***

Tidak hanya review Emily in Paris, baca beragam review film dan TV series lainnya hanya di menonton.id. Follow juga Twitter, Instagram, dan Facebook menonton.id untuk informasi terbaru tentang dunia entertainment.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here