Review Spree: Kritik Media Sosial yang Dangkal

review spree 2020

Review Spree (2020) | Sutradra: Eugene Kotlyarenko Penulis: Joe Keery, Sasheer Zamata, Mischa Barton, John DeLuca Negara: Amerika Serikat Durasi: 93 menit

***

Spree hadir dengan harapan melakukan kritik keras akan kelakuan orang di media sosial, yang kini semakin keterlaluan dan berlebihan. Orang seakan rela melakukan apa saja untuk bisa populer di media sosial.

Tapi, Spree gagal menyajikannya dengan baik, membuat review film ini tidak memuaskan.

Sinopsis Spree

Bagi Kurt Kunkle, hidup adalah “konten.” Ia menggunakan sosial media dengan akun bernama @kurtsworld96 dan membuat konten tentang hidupnya. Tapi sejauh ini ia selalu gagal mendapatkan banyak followers dan like.

Bagi dirinya, seseorang baru berarti ketika ada banyak orang yang menonton live streaming miliknya, atau memiliki banyak “like” dalam video-video yang dibuat. Ia cemburu pada banyak orang yang sukses membangun persona di media sosial. Apakah itu selebgram, selebtwit, atau influencer. Ia ingin memiliki apa yang dimiliki mereka.

Tidak heran ketika ia kemudian mengambil jalan pintas untuk terkenal. Ia mulai menjadi salah satu pengemudi Spree. Salah satu aplikasi berbagi tumpangan layaknya Uber, Grabcar, atau Gocar. Seluruh mobilnya berisikan banyak kamera di berbagai penjurunya.

Ia melakukan live streaming dari dalam mobilnya ketika ia membawa penumpang. Karena ingin terkenal, ia mulai melakukan prank-prank berbahaya untuk para penumpangnya. Hingga bisa mencelakakan, dan bahkan berakibat fatal.

Review Spree: kritik media sosial yang kurang mendalam

Kata “influencer” media asosial memberikan banyak hal untuk dibahas baik secara satir maupuk dikritik. Hal ini tentu menjadi alasan utama sang kreator membuat kisah ini dengan menjadikan media sosial sebaagai sebuah mediumnya.

Hal ini sebenarnya bukan perkara baru. Unfriended (2014) dan Friend Request (2016) membuat membahas media sosial dengan balutan horor. Sementara Ingrid Goes West (2017) mengkritik “influencers” dengan sangat keras.

Spree muncul dengan sebuah konsep yang sebenarnya menjanjikan. Bagaimana seseorang yang tidak memiliki keahlian, apapun itu, merasa ia perlu memiliki media sosial yang meyakinkan.

Sayangnya, semua itu dikemas secara dangkal, kurang mendalam, dan hanya fenomenanya saja. Tidak ada closure yang jelas dan memuaskan dari film ini.

Film ini juga disajikan dengan sinematografi “media sosial”, yang menjadikan kita seakan sedang menonton Kurt melakukan live di akun media sosialnya.

Hal ini cukup membuat kita menikmati filmnya. Walaupun perpindahan kamera dari satu ke yang lainnya terasa cukup mengganggu juga. Karena, tidak banyak live media sosial yang menggunakan perpindahan kamera, kan?

Salah satu hal yang bisa dipuji adalah akting dari Joe Keery yang sangat impresif. Menonton karakternya, Kurt, melakukan aksi-aksi yang keterlaluan membuat kita emosi dan berharap yang terburuk untuk datang padanya. Dalam artian, ia berakting dengan sangat meyakinkan.

Terakhir, film ini tidak memberikan sebuah sajian yang istimewa. Apa yang ada di dalamnya hanya berupa adegan dari satu prank ke adegan prank lainnya.

Layaknya menonton video prank di YouTube, tidak ada gunanya.

***

Tidak hanya review Spree, baca juga review film lainnya hanya di menonton.id. Follow Instagram, Twitter, dan Facebook kami untuk berita film terhangat.

Ryan Achadiat

Memulai karier sebagai seorang editor dan penulis di sebuah majalah film, Ryan berpindah karier sebagai wartawan dan lalu kemudian sebagai digital content manager. Kini kesibukannya adalah menonton ulang The Office sambil mencoba menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Tapi malah bikin menonton.id.

View All Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *