Review Palm Springs: Komedi Romantis Pengganti Groundhog Day

palm-springs

Palm Springs mendapatkan banyak review positif ketika ditayangkan. Tidak heran jika kemudian Hulu membelinya, dan menjadi pembelian termahal di Festival Film Sundance.

***

“Today, tomorrow, yesterday, it’s all the same” ucap Nyles suatu hari. Pertama kali saya mendengarnya, saya pikir Nyles melontarkan kalimat tersebut sebelum menjalani hari yang berulang.

Ternyata tidak, ia berkata seperti itu karena ia sudah menjalani hari tersebut paling tidak selama ratusan kali.

Ya, Palm Springs (2020) memang sebuah film komedi romantis dengan premis hari yang berulang atau time loop. Sebenarnya konsep ini memang bukanlah sebuah cerita baru.

Groundhog Day (1993) bisa jadi disebut sebagai salah satu yang populer. Bukan yang pertama, tapi termasuk yang pertama mempopulerkan jenis film ini. Beberapa judul film time loop lainnya yang terkenal di antaranya adalah Run Lola Run (1998), The Girl Who Leapt Trough Time (2006), Triangle (2009), Source Code (2011), Edge of Tomorrow (2014), Happy Death Day (2017). Sementara baru-baru ini ada TV series Russian Doll (2019) yang memiliki jenis serupa.

Tapi, film ini memiliki kedekatan cerita dengan Groundhog Day. Karena keduanya merupakan film komedi romantis dengan kisah time loop.

Sinopsis Palm Springs

Kini, Palm Springs memiliki premis yang sama. Nyles (Andy Samberg) datang sebagai plus one dari kekasihnya Misty (Meredith Hagner) di pernikahan sahabatnya Tala (Camila Mendes).

Saat kita pertama kali dipertemukan dengan Nyles, ternyata Nyles sudah ratusan atau bahkan ribuan kali mengulang hari tersebut. Ia tahu bagaimana hari akan berjalan, sampai hapal bagaimana para undangan menari di pesta pernikahan. Karena sudah mengulang hari selama berkali-kali, ia juga jadi mengetahui beragam karakter orang di dalamnya.

Di paruh pertama film ini, kita diperkenalkan juga dengan sang kakak dari mempelai wanita, Sarah (Cristin Milioti). Dari sana, terlihat juga bagaimana Nyles mencoba untuk mendekati Sarah, tentunya dengan berbekal pengetahuan dari hari yang sudah ia jalani selama ratusan kali.

Dengan cara dan rayuan yang (mungkin) sudah dilakukan oleh Nyles selama puluhan bahkan ratusan kali, tentu ia berhasil merayu Sarah.

Saat sedang bermesraan berdua, tiba-tiba seorang lelaki bernama Roy (J.K. Simmons) menyerang Nyles. Ketakutan, mereka berlari ke arah gua. Di sana terdapat sebuah hal mistis; Nyles dan Roy tampak sudah tahu apa yang ada di dalam sana.

Nyles kemudian meminta Sarah untuk tidak mendekati benda mistis di dalam gua tersebut. Tapi terlambat. Kini Sarah juga ikut terjebak dalam dunia yang terus berulang, bersama dengan Nyles dan juga Roy.

Konsep dan cerita segar dari film genre time loop

Palm Spring berhasil memberikan sentuhan baru akan cara bercerita dan juga konsep dari film time loop. Dalam Groundhog Day kita hanya mengikuti satu karakter yang sadar bahwa ia terjebak dalam time loop; di Palm Springs tidak.

Di sini, Nyles terjebak bersama dengan dua orang lain. Sehingga ia bisa berbagi bahagia, ceria, cerita, kehebohan, termasuk juga kesedihan, kebosanan, dan kebingungan bersama.

Dari premis yang terbangun ini, saya berani bilang, meskipun Groundhog Day merupakan film komedi romantis time loop yang ikonik, tapi Palm Springs lebih menghibur.

Setiap adegannya terasa segar. Bagaimana Nyles dan Sarah berbagi cerita dan bertukar pikiran akan apa yang terjadi. Berbeda seperti Groundhog Day saat kita harus ikut bingung selama lebih dari setengah film bersama karakter utamanya saja.

Secara jelas, pujian perlu diberikan kepada Andy Samberg dan Cristin Milioti yang sukses memberikan chemistry antar-karakter yang mereka perankan. Selanjutnya, tentu saja harus diberikan kepada penulis naskah Andy Siara dan juga sutradara Max Barbakow mengeksekusi semua hal menjadi sangat menarik.

Terakhir, para pemeran pendukung memberikan akting yang baik. Dan setiap karakter di dalamnya memiliki tujuan. J.K. Simmons, Camila Mendes, Tyler Hoechlin, Peter Gallagher, bahkan hingga June Squibb berhasil menjadi scene stealer dengan dialog dan aktingnya yang jenaka.

Saya menyudahi review Palm Springs ini dengan sebuah statemen yang tidak main-main; film ini bukan film komedi romantis biasa, bahkan ia layak menjadi ikon komedi romantis pengganti Groundhog Day.

Dengan statemen tersebut, tentu saja ini menjadi salah satu film favorit saya selama beberapa tahun ke belakang, dan film terbaik 2020 sejauh ini.

Untuk kamu pecinta komedi romantis, ini adalah film penting yang perlu ditonton.

***

Lihat beragam review film dan TV series lain di menonton.id.

Ryan Achadiat

Memulai karier sebagai seorang editor dan penulis di sebuah majalah film, Ryan berpindah karier sebagai wartawan dan lalu kemudian sebagai digital content manager. Kini kesibukannya adalah menonton ulang The Office sambil mencoba menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Tapi malah bikin menonton.id.

View All Posts

1 comment on “Review Palm Springs: Komedi Romantis Pengganti Groundhog Day

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *