Review Boys State – Sutradara: Amanda McBaine, Jesse Moss Pemain: Steven Garza, Ben Feinstein, Rene Otero, Robert Macdougal Durasi: 105 menit Studio: Apple TV+
***
Boys State bisa jadi merupakan dokumenter terbaik sepanjang tahun 2020, sejauh ini. Hal ini memberikan sebentuk penghargaan tambahan untuk koleksi film orisinal yang diproduksi oleh Apple TV+. Platform ini kini semakin menancapkan diri dengan produksi konten yang semakin berkualitas.
Dokumenter ini memberikan gambaran akan sebuah realita pandangan hidup anak remaja AS, terutama mengenai sudut pandang politik mereka.
Anak-anak muda yang seharusnya progresif, terpaku pada sebuah ide bernama “menang” dalam proses demokrasi yang mereka lakukan di summer camp tersebut.
Walaupun mereka memiliki pandangan politik yang sangat progresif, mereka akan mengesampingkannya. Dan melakukan apapun untuk menang.
Sinopsis Boys State: Berlatih jadi politisi di usia muda
Boys State merupakan sebuah acara tahunan yang diadakan oleh The American Legion. Film ini bersetting di Texas, AS. Di awal film kita diperlihatkan bagaimana anggota The American Legion mewawancarai anak-anak muda untuk ikut berpartisipasi dalam Boys State.
Setelah lolos, mereka akan bergabung bersama ribuan anak lainnya dari beragam kota lain di Texas. Di sana, mereka akan menjalankan beragam kegiatan politik pemerintahan.
Mereka dibagi menjadi dua buah partai besar: Nasionalist dan Federalist. Layaknya dua partai besar di AS: Demokrat dan Republikan. Hanya saja, sang anak-anak diminta untuk menentukan sendiri pandangan partai mereka.
Dari sana, mereka akan bersaing untuk mencalonkan nama-nama perwakilan partai untuk mengisi pos-pos penting. Mulai dari kursi jaksa agung, anggota dewan, hingga gubernur Texas.
Setelahnya, mereka melakukan beragam kegiatan politik pemerintahan layaknya seorang politisi. Mencari dukungan dari konstituen, debat antarkandidat, lobi-lobi politik, sampai kampanye.
Ketika itulah dokumenter ini menjadi lebih menarik sekaligus menakutkan. Membayangkannya saja membuat saya gemetar menuliskan review Boys state ini.
Akan lakukan apapun untuk menang
Jika dibaca sekilas, Boys State terlihat seperti ajang main-main. Dan memang, ketika ribuan remaja laki-laki berkumpul mereka akan bercanda. Seperti mengajukan undang-undang untuk melarang nanas di atas pizza di Texas, misalnya.
Tapi, Boys State juga tidak sebercanda itu. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Ada banyak alumninya yang mendapatkan posisi penting di pemerintahan AS. Bahkan menjadi presiden. Alumninya seperti Bill Clinton, Dick Cheney, Cory Booker, Samuel Alito, hingga Roger Ebert.
Jajaran alumi tersebut menjadikan kita tidak bisa melihatnya sebagai sebuah candaan dan guyonan. Mereka yang ada di sana bisa menduduki posisi penting di pemerintahan AS suatu saat nanti. Atau menjadi publik figur berpengaruh di kemudian hari.
Bayangan tersebut menjadi mengerikan ketika para remaja di Boys State rela melakukan apapun, bahkan mengesampingkan pandangan politik progresif mereka, untuk menang.
Hal inilah yang jelas dilakukan oleh para ‘tokoh utama’ di Boys State. Bagaimana mereka berkompromi untuk terus mendukung hak kepemilikan senjata api, melarang aborsi, dan beragam hal lainnya.
Mereka tidak ingin yang terbaik untuk negara atau ‘state’ mereka. Yang mereka lakukan adalah berkompromi dengan mendukung beragam kebijakan kontroversial untuk mendapatkan banyak suara.
Boys State menjadi sebuah refleksi betapa mengerikannya praktik politik di AS. Bagaimana demokrasi, yang digadang-gadang sebagai sebuah sistem pemerintahan terbaik, memiliki sebuah cacat besar.
Mereka yang ingin menjalankan pemerintahan di negara demokrasi bukan harus memiliki kebijakan yang terbaik, tapi yang didukung suara terbanyak. Jadi, sebuah pandangan politik yang progresif akan selalu kalah oleh yang menang.
***
Tidak hanya review Boys State, baca juga beragam review film lain di menonton.id.
Review Project Power |Sutradara: Henry Joost, Ariel Schulman Pemain: Jamie Foxx, Joseph Gordon-Levitt, Dominique Fishback, Courtney B. Vance Durasi: 111 menit Studio: Netflix
***
Sebuah obat misterius berbentuk pil hadir di New Orleans. Obat ini bisa membuat yang memakannya, mendapatkan kekuatan super selama lima menit. Kekuatannya unik bagi setiap pemakainya. Tidak heran jika kemudian hadir kriminal-kriminal baru yang menggunakan obat ini sebagai alat bantu mereka.
Seorang pengedar muda, polisi New Orleans, dan mantan tentara mencoba mencari tahu siapa penyuplai pil ini. Untuk mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas ini semua.
Premis tersebut adalah sinopsis dari Project Power (2020) yang tayang di Netflix 14 Agustus lalu. Dan sejak itu, telah banyak orang yang memuji film penuh aksi ini.
Penuh aksi, minim isi, tapi menghibur sekali
Sejak menit pertama kita bisa melihat bahwa tampilan film ini sangatlah gelap dan akan penuh misteri. Dan benar saja, film ini ternyata dipenuhi beragam aksi dengan balutan visual efek yang sangat keren (terima kasih Netflix).
Sepanjang film, ada banyak adegan aksi yang memikat. Untuk para penggemar film aksi, mereka akan sangat menyukai ini. Terlebih, Gordon-Levitt, Foxx, dan pendatang baru Fishback tampil dengan performa akting yang oke.
Joke-joke segar juga mengisi dialog antarpara pemainnya. Walaupun tidak membuat tertawa terbahak-bahak, tapi cukup untuk menurunkan tensi ketegangan.
Sayangnya, keseluruhan cerita ini terasa sangat tanggung. Kehadiran pil ajaib ini seharusnya bisa disajikan dengan sangat liar dengan mengedepankan beragam keahlian super dari pemakainya.
Hanya beberpa kekuatan super yang terlihat sepanjang film. Ditambah beberapa aksi dari sang protagonis Gordon-Levitt dan Foxx.
Sementara kemampuan para villain setelah memakan pilnya juga jelas memperlihatkan kurangnya imajinasi penulis. Padahal, dengan kekuatan super yang lebih mengerikan lagi, film ini akan terasa lebih menyenangkan untuk ditonton.
Verdict review Project Power: Film superhero yang menyenangkan
Walau begitu, secara keseluruhan, Project Power sendiri hadir tepat waktu. Kehadirannya seakan menjadi sebuah sajian yang menghapus dahaga akan kekosongan film summer blockbuster di tengah pandemi.
Sayangnya, film ini tidak hadir di bioskop. Padahal, film ini sebenarnya akan lebih menarik untuk ditonton di bioskop. Mengingat banyaknya adegan aksi dan juga visual efek yang sangat keren di dalamnya.
Project Power mendapatkan banyak review beragam. Tidak ada yang menyebutnya bagus sekali, tapi tidak juga jelek sekali. Seperti RottenTomatoes misalnya.
Menyenangkan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan secara keseluruhan review Project Power ini. Karena memang film ini menyenangkan untuk ditonton. Film ini mengingatkan kita akan dua film lain Push (2009) dan Limitless (2011); yang keduanya juga menyenangkan untuk ditonton.
***
Review film lainnya bisa dibaca juga di menonton.id.
Dalam review An American Pickle (2020) ini, kita akan membahas betapa film ini menyenangkan. Premisnya yang jenaka, sampai betapa hangatnya pesan yang disampaikan. Hanya saja, ada sesuatu yang kurang sehingga, walaupun menyenangkan ketika ditonton, film ini sepertinya akan cepat dilupakan.
***
Premis An Americak Pickle sangat sederhana.
Seorang imigran Yahudi bernama Herschel Greenbaum (Seth Rogen) tiba di Amerika Serikat tahun 1920. Ia kemudian bekerja di sebuah pabrik acar, menjadi seorang pengusir tikus. Suatu hari, segerombolan tikus menyerang dirinya balik, dan membuatnya tidak sengaja masuk ke dalam larutan acar, dan terjebak di sana selama 100 tahun.
Di tahun 2020, ia ditemukan tidak menua sama sekali. Akhirnya ia menemukan keturunannya yang terakhir, cicitnya, Ben Greenbaum (juga Seth Rogen). Ben adalah mobile app developer yatim piatu karena ibu dan ayahnya meninggak dunia dalam kecelakaan.
Perbedaan pandangan, kepercayaan, dan prinsip hidup antarkeduanya menjadi bensin yang membuat mereka membenci satu sama lain. Walaupun mereka adalah Greenbaum terakhir.
Herschel berhasil membuat sebuah bisnis acar yang sukses disukai banyak orang. Dan Ben yang merasa kehadiran Herschel membuat hidupnya berantakan, berusaha untuk terus menyabotasenya.
Review An American Pickle: Komedi tepat zaman
Sejak menit pertama, film ini sudah mengundang tawa. Tawa satir tentu saja. Ada banyak hal dan bit-bit komedi yang tentunya mengundang tawa. Karena memang cocok dengan kondisi saat ini.
Pujian tentu perlu diberikan pada siapa saja yang bertanggung jawab untuk menulis bit dan bit dari lelucon yang ada. Mulai dari bagaimana Yahudi “menang” karena penemu obat polio adalah orang Yahudi. Sampai dengan beragam joke tentang media sosial dan kehebohan populernya.
Salah satu satir yang sangat mengena dalam film ini adalah bagaimana pandangan “kanan” atau konservatif sudah sangat outdated atau ketinggalan zaman. Padahal, pandangan tersebut masih banyak (dan kembali muncul lebih banyak lagi) di era modern seperti sekarang.
Seth Rogen yang memerankan dua karakter juga bermain dengan sangat baik. Ketika menjadi Herschel, Rogen tampak sangat menikmatinya. Karena sangat jarang ia memerankan seorang kolot yang konservatif, bigot, rasis, dan seksis. Dan ketika menjadi Ben, ia menjadi dirinya sendiri.
Pada intinya, film ini berkisah tentang sebuah hubungan keluarga, seberapa pun jauhnya, tetap kuat. Seberapa pun berbedanya pandangan, kepercayaan, dan filosofi hidup, keluarga harus saling membantu satu sama lainnya.
Pesan ini, walau baik tujuannya, juga sebenarnya terlalu general. Tidak terlalu spesifik sehingga tidak terlalu spesial.
Hal inilah yang menjadi kekurangan An American Pickle. Walaupun saat menonton, dan beberapa saat setelahnya, kita akan merasa hangat dan senang karena film ini. Tapi film ini tampaknya tidak akan mudah diingat di masa mendatang. Bahkan, bisa jadi akan mudah untuk dilupakan.
Film ini mendapatkan rating yang cukup buruk di IMDb, tapi cukup baik di RottenTomatoes. Bagi saya, film ini memang sebuah komedi yang patut ditonton, terutama saat ini. Saat komedinya lebih relevan dengan zaman.
***
Tidak hanya review An American Pickle, baca juga review lainnya hanya di menonton.id.
Tidak heran jika dalam banyak review The Umbrella Academy yang menyebut season 2 lebih baik dari season pertamanya. Karena memang seluruh aspeknya, bisa dibilang season 2 ini lebih matang dan menghibur.
***
Season pertama dari The Umbrella Academy memiliki banyak hal: gaya yang keren, para pemain dan karakter yang asyik, ditambah dengan kisah misteri yang bisa membuat kita ingin terus menonton. Semua hal ini sangat bagus. Pujian pun banyak diberikan.
Tapi, tanggapan para penonton beragam di musim pertamanya. Kebanyakan dari mereka juga menyebut bahwa musim debutnya tersebut terasa terlalu panjang, bertempo lambat, dan membosankan. Memang benar. Apalagi jika kita membandingkannya dengan musim keduanya ini.
Untungnya, sang kreator dan semua orang di baliknya belajar dari pengalaman ini. Di musim keduanya, semua terasa lebih cepat, lebih menarik, dan lebih menghibur.
Sinopsis The Umbrella Academy Season 2
The Umbrella Academy dimulai tepat setelah kejadian di season pertamanya. Mereka melompati waktu untuk menuju ke masa lalu. Tapi karena kesalahan perhitungan, mereka terlempar ke dalam waktu yang berbeda di tahun 1960-an di Dallas Amerika Serikat.
Klaus dan Ben di bulan Februari 1960. Allison di tahun 1961. Luther di tahun 1962. Sementara Diego dan Vanya terlempar ke tahun 1963 di bulan yang berbeda. Terakhir, Five tiba di tanggal 25 November 1963. Ketika ia tiba, Amerika Serikat menyatakan perang dengan Uni Soviet. Dan perang nuklir yang bisa menghancurkan dunia pun dimulai.
Di sana, seluruh anggota The Umbrella Academy, bahkan Ben, menggunakan kekuatannya untuk menghalau tentara Uni Soviet. Sebelum Five menyadari bahwa dunia akan hancur, Hazel datang dang mengajak Five pergi ke masa lalu lagi, sebelum kekacauan ini terjadi; untuk menghentikannya.
Dari sanalah Five kembali berusaha mengumpulkan keluarganya. Untuk berjuang bersama menghentikan Perang Dunia yang bisa menghancurkan dunia. Juga untuk kembali ke kehidupan normalnya.
Lebih bagus, lebih cepat, lebih kuat
Tidak mengherankan ketika review The Umbrella Academy season 2 hadir dengan banyak pujian. Ada banyak hal yang hadir lebih baik dibandingkan season pertamanya.
Di musim pertama setiap karakter utamanya diceritakan secara mendalam. Tapi, chemistry antar keluarga tersebut tidak lebih baik daripada di season keduanya.
Kini, keluarga ini menunjukan hubungan yang lebih kompleks, lebih mendalam, dan lebih menyenangkan untuk ditonton. Candaan, hinaan, dan dialog antarmereka terasa lebih natural. Terima kasih akan akting dari masing-masing aktornya yang kini semakin matang.
Pujian juga perlu diberikan pada para penulis yang kini menyajikan kisah yang lebih menarik dan mudah untuk dimengerti banyak orang. Padahal, tidak sederhana juga plot yang diceritakan, terutama yang berhubungan dengan time traveling.
Walau konsep time traveling ini akan memicu beragam perdebatan (thanks to purist Avengers: Endgame), tapi kisah yang disajikan tetap seru, menegangkan, sekaligus juga menghibur.
***
Baca review film dan juga TV show lain hanya di menonton.id.
Palm Springsmendapatkan banyak review positif ketika ditayangkan. Tidak heran jika kemudian Hulu membelinya, dan menjadi pembelian termahal di Festival Film Sundance.
***
“Today, tomorrow, yesterday, it’s all the same” ucap Nyles suatu hari. Pertama kali saya mendengarnya, saya pikir Nyles melontarkan kalimat tersebut sebelum menjalani hari yang berulang.
Ternyata tidak, ia berkata seperti itu karena ia sudah menjalani hari tersebut paling tidak selama ratusan kali.
Ya, Palm Springs (2020) memang sebuah film komedi romantis dengan premis hari yang berulang atau time loop. Sebenarnya konsep ini memang bukanlah sebuah cerita baru.
Groundhog Day (1993) bisa jadi disebut sebagai salah satu yang populer. Bukan yang pertama, tapi termasuk yang pertama mempopulerkan jenis film ini. Beberapa judul film time loop lainnya yang terkenal di antaranya adalah Run Lola Run (1998), The Girl Who Leapt Trough Time (2006), Triangle (2009), Source Code (2011), Edge of Tomorrow (2014), Happy Death Day (2017). Sementara baru-baru ini ada TV series Russian Doll (2019) yang memiliki jenis serupa.
Tapi, film ini memiliki kedekatan cerita dengan Groundhog Day. Karena keduanya merupakan film komedi romantis dengan kisah time loop.
Sinopsis Palm Springs
Kini, Palm Springs memiliki premis yang sama. Nyles (Andy Samberg) datang sebagai plus one dari kekasihnya Misty (Meredith Hagner) di pernikahan sahabatnya Tala (Camila Mendes).
Saat kita pertama kali dipertemukan dengan Nyles, ternyata Nyles sudah ratusan atau bahkan ribuan kali mengulang hari tersebut. Ia tahu bagaimana hari akan berjalan, sampai hapal bagaimana para undangan menari di pesta pernikahan. Karena sudah mengulang hari selama berkali-kali, ia juga jadi mengetahui beragam karakter orang di dalamnya.
Di paruh pertama film ini, kita diperkenalkan juga dengan sang kakak dari mempelai wanita, Sarah (Cristin Milioti). Dari sana, terlihat juga bagaimana Nyles mencoba untuk mendekati Sarah, tentunya dengan berbekal pengetahuan dari hari yang sudah ia jalani selama ratusan kali.
Dengan cara dan rayuan yang (mungkin) sudah dilakukan oleh Nyles selama puluhan bahkan ratusan kali, tentu ia berhasil merayu Sarah.
Saat sedang bermesraan berdua, tiba-tiba seorang lelaki bernama Roy (J.K. Simmons) menyerang Nyles. Ketakutan, mereka berlari ke arah gua. Di sana terdapat sebuah hal mistis; Nyles dan Roy tampak sudah tahu apa yang ada di dalam sana.
Nyles kemudian meminta Sarah untuk tidak mendekati benda mistis di dalam gua tersebut. Tapi terlambat. Kini Sarah juga ikut terjebak dalam dunia yang terus berulang, bersama dengan Nyles dan juga Roy.
Konsep dan cerita segar dari film genre time loop
Palm Spring berhasil memberikan sentuhan baru akan cara bercerita dan juga konsep dari film time loop. Dalam Groundhog Day kita hanya mengikuti satu karakter yang sadar bahwa ia terjebak dalam time loop; di Palm Springs tidak.
Di sini, Nyles terjebak bersama dengan dua orang lain. Sehingga ia bisa berbagi bahagia, ceria, cerita, kehebohan, termasuk juga kesedihan, kebosanan, dan kebingungan bersama.
Dari premis yang terbangun ini, saya berani bilang, meskipun Groundhog Day merupakan film komedi romantis time loop yang ikonik, tapi Palm Springs lebih menghibur.
Setiap adegannya terasa segar. Bagaimana Nyles dan Sarah berbagi cerita dan bertukar pikiran akan apa yang terjadi. Berbeda seperti Groundhog Day saat kita harus ikut bingung selama lebih dari setengah film bersama karakter utamanya saja.
Secara jelas, pujian perlu diberikan kepada Andy Samberg dan Cristin Milioti yang sukses memberikan chemistry antar-karakter yang mereka perankan. Selanjutnya, tentu saja harus diberikan kepada penulis naskah Andy Siara dan juga sutradara Max Barbakow mengeksekusi semua hal menjadi sangat menarik.
Terakhir, para pemeran pendukung memberikan akting yang baik. Dan setiap karakter di dalamnya memiliki tujuan. J.K. Simmons, Camila Mendes, Tyler Hoechlin, Peter Gallagher, bahkan hingga June Squibb berhasil menjadi scene stealer dengan dialog dan aktingnya yang jenaka.
Saya menyudahi review Palm Springs ini dengan sebuah statemen yang tidak main-main; film ini bukan film komedi romantis biasa, bahkan ia layak menjadi ikon komedi romantis pengganti Groundhog Day.
Dengan statemen tersebut, tentu saja ini menjadi salah satu film favorit saya selama beberapa tahun ke belakang, dan film terbaik 2020 sejauh ini.
Untuk kamu pecinta komedi romantis, ini adalah film penting yang perlu ditonton.
***
Lihat beragam review film dan TV series lain di menonton.id.
Tidak banyak orang yang tahu tentang Quiz (2020). Serial ini memang ditayangkan di stasiun TV ITV, yang merupakan jaringan stasiun TV di Inggris. Selain orang Inggris, tidak banyak yang sudah menyaksikannya. Karenanya, sangat sulit untuk membaca sumber, berita, bahkan review Quiz.
Saya sendiri mengetahui informasi tentang Quiz setelah membaca berita bahwa Succession (2018) akan diperbarui untuk season ke-3. Dari sana saya membaca informasi tentang para bintangnya. Sampai saat saya membaca informasi tentang Matthew Macfadyen, saya menemukan bahwa ia berperan dalam Quiz.
Saya adalah penggemar Matthew Macfadyen sejak ia berperan sebagai Mr. Darcy di Pride and Prejudice (2005) dan terutama perannya sekarang di Succession. Tidak hanya dia, di dalam Quiz saya juga menemukan nama Sian Clifford, yang saya kagumi aktingnya di Fleabag (2016). Ditambah lagi saya juga menemukan nama Michael Sheen di dalamnya; aktor yang saya sukai perannya dalam … apapun.
Dan ketika saya melihat nama Stephen Frears (Dangerous Liaisons, Philomena, A Very English Scandal) duduk di kursi sutradara, dari situlah saya tahu saya harus bisa menonton serial ini secepatnya.
Long story short… saya bisa menontonnya. Dan kini menulis review tentang bagaimana Quiz menyajikan drama tiga babak yang sangat baik.
Drama membangun “skandal batuk” dalam tiga babak
Saya tidak akan memberikan spoiler alert dalam review Quiz ini. Karena kita semua sudah tahu cerita utuh dan nyatanya. Semua berita ini kini bisa didapatkan di Internet.
Limited series ini terdiri dari tiga episode yang membangun cerita tentang skandal terbesar dalam perjalanan sejarah kuis Who Wants to Be a Millionaire?; kuis populer di seluruh dunia.
Serial ini bercerita tentang Charles Ingram (Macfadyen), seorang mantan mayor tentara Inggris. Tanpa diduga, ia berhasil memenangkan hadiah sebesar £1,000,000 dalam kuis Who Wants to Be a Millionaire? di tahun 2001. Tapi, pihak studio kemudian menuduhnya telah melakukan kecurangan sehingga berhasil memenangkan kuis tersebut. Ia dan istrinya Diana (Clifford) pun dituntut, dan dinyatakan bersalah.
Berita ini memang ramai ketika tahun 2001 lalu. Menjadi sebuah “skandal batuk” yang terkenal di seluruh dunia. Nama skandal ini dikenal karena Charles dan istrinya disebut menggunakan cara “batuk” untuk saling membantu menjawab pertanyaan dengan benar.
Episode pertama kita disajikan perkenalan akan karakter keluarga Charles dan Diana Ingram. Diana merupakan seorang istri yang berasal dari keluarga gila kuis. Ia, ayahnya, dan saudara laki-lakinya tergila-gila akan kuis. Mulai dari kuis bar, sampai kuis di TV. Tidak heran ketika Who Wants to Be a Millionaire? tayang untuk pertama kalinya, mereka terobsesi untuk bisa ikut bermain.
Sejak episode pertama dan kedua, kita disajikan dan diberikan gambaran bahwa keluarga Ingram ingin berhasil memenangkan kuis tersebut. Apapun caranya. Sedikit demi sedikit kita diberikan petunjuk bahwa mereka berbuat curang.
Mulai dari bergabung dengan para penggemar kuis yang obsesif lainnya, membuat alat latihan, menyiasati proses seleksi peserta lewat telepon, dan lain sebagainya.
Bagaimana Charles Ingram akhirnya terpilih sebagai kontestan “kursi panas”. Dan juga bagaimana ia mengaku tidak pernah mendengar Craig David, bisa menjawab pertanyaan tentangnya. Ia juga sering mengganti-ganti jawaban dengan tiba-tiba; membuat banyak orang curiga.
Kita seakan dibuat percaya bahwa mereka bersalah. Mereka dan banyak pemain yang terobsesi akan kuis ini saling membantu untuk mendapatkan sukses.
Sampai di sini, penonton mendapatkan kesan bahwa serial ini hanya bercerita tentang sebuah trik berlaku curang. Layaknya heist movie.
Episode pamungkas yang memangkas keyakinan akan kecurangan
Tapi semua itu berubah di episode terakhir.
Menonton episode satu dan dua dari serial ini seakan membuat cerita semakin meningkat dan menegangkan. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, kita seakan dibuat percaya bahwa mereka melakukan kecurangan.
Di dalam episode ini, terutama di banyak adegan selain Ingram memenangkan kuisnya, semua anggapan itu hilang.
Adegan di dalam ruang sidang sungguh mematahkan keyakinan penonton bahwa Ingram berbuat curang. Satu per satu klaim dan bukti dipatahkan oleh argumen yang solid dari pengacaranya. Helen McCrory yang memerankannya benar-benar mencuri perhatian di episode tersebut.
Tidak hanya itu, Mark Bonnar yang berperan sebagai salah satu eksekutif acara kuis tersebut juga mulai mempertanyakan keyakinannya. Satu persatu hal dibedah tentang bagaimana ia menjadi ragu bahwa Ingram telah berbuat curang.
Di akhir episode ini kita akan bertanya pada diri sendiri: apakah Ingram benar-benar berlaku curang atau hanya pemain beruntung yang menjadi korban sebuah tuduhan?
Quiz hadir bukan tanpa kekurangan di dalamnya
Kekurangan dari serial ini, terkadang ada beberapa adegan yang terasa dragging sehingga membuat penonton merasa monoton. Editingnya memang terasa kurang bisa menangkap cerita menjadi lebih menarik lagi.
Ditambah lagi naskah yang ditulis pun juga tidak bisa dibilang istimewa dan baik; walau tidak bisa disebut jelek juga.
Serial ini memang akan kesulitan untuk membuat penonton fokus menyaksikan episodenya secara penuh. Tapi, untungnya, itu semua dihajar baik dengan penampilan para aktornya.
Pujian perlu diberikan pada para pemainnya. Selain Matthew Macfadyen, Sian Clifford, dan Michael Sheen, kita juga perlu memberikan pujian pada Helen McCrory dan Mark Bonnar. Mereka mampu mencuri pertunjukkan dengan akting yang sangat baik.
Tidak hanya itu, penyutradaraan Stephen Frears juga sangat apik dan bisa memberikan sajian yang menyenangkan sekaligus menegangkan.
Menjadikan Quiz sebagai salah satu serial yang perlu ditonton banyak orang. Terutama bagi mereka yang ingin mengetahui kisah di balik skandal batuk Who Wants to Be a Millionaire? ini.
***
Tidak hanya review Quiz, baca juga review serial TV dan film lainnya sebelum menonton hanya di menonton.id.
Banyak orang bilang seri film Fifty Shades of Grey (2015 – 2018) adalah film buruk. Dengan jalan cerita yang berantakan dan hanya menglorifikasi adegan seksual (terutama BDSM). Well, film-film tersebut akan terlihat lebih baik setelah kalian menonton lalu membaca banyak review 365 Days (2020).
Tidak heran ketika film ini mendapat rating 0% rotten di situs Rotten Tomatoes. Bahkan situs Cosmopolitan menyebut film ini sebagai “film terburuk yang pernah ditonton”. Dan banyak review buruk yang ditulis situs lain tentang film 365 Days ini.
Ada banyak hal yang salah dari film ini. Mulai dari bagaimana film ini memiliki editing yang jelek, script dan dialog yang cringey, akting yang buruk, sampai cerita yang meromantisasi penculikan.
Tidak ada alasan yang jelas akan kenapa banyak orang perlu menonton film ini. Karena seluruh aspeknya terlihat berantakan. Masih bisa disebut film pun sudah untung.
Saya menebak, film ini sangat populer di Netflix karena banyak orang yang membicarakan betapa erotisnya film ini. Padahal film ini juga tidak erotis.
Selain mungkin juga alasan banyak orang yang mencari film sejenis di tengah pandemi. Karena bosan #DiRumahAja.
Adegan erotis yang terpaksa
Adegan erotis di dalam film bisa memberikan sensasi tersendiri ke penonton, selain juga memberikan pijakan atau kekuatan pada keseluruhan cerita film.
Di sini saya membandingkannya dengan film erotis lain. Sutradara seperti Lars von Trier, Catherine Breillat, atau Gaspar Noe bisa dibilang pernah membuat film erotis yang tidak asal.
Setiap adegan seksual di dalam filmnya diperhatikan dengan baik. Apakah perlu ada, atau tidak. Apakah mendukung cerita, atau tidak. Apakah memberikan perkembangan karakter, atau tidak.
Sementara di dalam 365 Days, setiap adegannya seksinya seakan dilakukan secara berantakan, tanpa ada relevansinya terhadap cerita. Tidak dijelaskan kenapa perlu ada adegan tersebut. Para pemainnya berakting dengan sangat buruk pula.
Setiap adegan seakan-akan ada karena terpaksa. Banyak adegan yang sebenarnya tidak perlu, tapi dijejalkan ke dalam durasi 114 menit yang dimiliki.
Jika kalian memang menonton film ini karena penasaran akan kontroversinya, by all means. Tapi, saya sendiri sih masih kesal sudah membuang-buang waktu untuk menonton film yang sangat buruk.
Paling tidak, menonton Fifty Shades of Grey memberikan sedikit hiburan. Tidak seperti film ini yang setiap adegan dan dialognya membuat saya mengerutkan dahi.
Sama seperti film porno kebanyakan, 365 Days tidak memiliki cerita yang baik, karakter yang menarik, dan teknik produksi yang apik.
Film ini bahkan lebih buruk daripada film porno. Keduanya memiliki penyajian yang sama. Adegan dengan dialog kaku dan aneh, ditutup dengan adegan seks/erotis, loncat ke adegan selanjutnya, lalu ulangi.
Tapi, 365 Days bisa dibilang lebih buruk. Karena paling tidak, film porno punya adegan seks yang asli dan unsimulated; selain juga memang memiliki tujuan menghibur lewat adegan pornonya. Sementara film ini tidak menghibur dan hanya disebut “film” karena didistribusikan Netflix.
***
Baca review film dan TV series lainnya hanya di menonton.id.
Tidak banyak orang yang tahu bahwa sebenarnya kita bisa download film Netflix kapan saja dan di mana saja. Sehingga kita bisa menontonnya kapan pun kita mau.
Kita bisa mendownload serial TV ataupun film di aplikasi Netflix untuk ditonton secara offline lain waktu. Dan ini bisa kamu tonton kapan saja, tanpa adanya batasan layar yang bisa ditonton secara bersamaan.
Film hasil download yang ada di Netflix sendiri hanya bisa ditonton di device atau gadget yang kita gunakan untuk mendownload.
Hanya saja perlu dicatat bahwa kita hanya bisa mendownload film Netflix di beberapa gadget yang memenuhi kriteria di bawah ini; dan tidak bisa didownload dari browser komputer ya.
Cara download film Netflix
Menonton.id telah merangkum beragam informasi tentang cara download film Netflix di sini:
Apa yang dibutuhkan untuk download film dan TV series Netflix?
koneksi internet, dan
Akun streaming Netflix aktif, dan
Sebuah iPhone, iPad, atau iPod touch dengan iOs 9.0 atau yang lebih baru, atau
Sebuah telepon atau tablet dengan Android 4.4.2 atau yang lebih baru, atau
Sebuah tablet Amazon Fire dengan OS 4.0 atau yang lebih baru, atau
Sebuah tablet atau komputer dengan Windows 10 versi 1607 (Anniversary update) atau yang lebih baru, dan
Catatan: beberapa model Chromebook dan Chromebox mungkin bisa mendownload aplikasi Netflix terbaru untuk Android dari Google Play Store dan digunankan untuk men-download.
Jika kamu melihat pesan error ketika akan melakukan download atau menonton sebuah judul film Netflix, lihat Pusat Bantuan untuk pesan tersebut.
Cara mendownload sebuah judul
Jika kamu memiliki sebuah judul yang akan didownload, kamu bisa mencari judul tersebut dan pencet tombol ikon . Setelah menemukan judul tersebut, kamu bisa mengikuti langkah di bawah ini.
Pilih judul film yang kamu ingin download.
Pada halaman deskripsi, pencet tombol ikon .
Untuk TV series, ikon akan muncul di samping setiap episode yang tersedia.
Saat judul sudah selesai didownoad, kamu bisa mengaksesnya dari bagian My Downloads di aplikasi.
Tidak menemukan pilihan download film dan TV Series Netflix?
Tidak semua judul tersedia untuk didownload. Jika kamu tidak memiliki pilihan ini di gadgetmu, kamu mungkin mencoba download dari gadget yang tidak cocok dengan kriteria di atas.
Catatan: Beberapa gadget juga memungkinkan Smart Downloads, sebuah fitur yang akan menghapus sebuah judul atau episode yang sudah didownload ketika sudah ditonton. Sehingga akan langsung mendownload episode berikutnya dari series tersebut.
Cara menonton film Netflix yang sudah didownload
Judul atau episode yang sudah didownload hanya bisa ditonton di alat yang digunakan untuk mendownload film/series tersebut.
Catatan: Walaupun kamu tidak membutuhkan internet untuk menonton judul yang sudah didownload, kamu tetap akan perlu untuk masuk ke dalam akun Netflix untuk bisa mengaksesnya. Untuk memastikan kamu selalu selalu memiliki akses ke film/series yang sudah didownload, sebaiknya kamu mengaktifkan mode tetap masuk di aplikasi Netflix.
iPhone, iPad, atau iPod Touch
Pilih ikon Download dari dalam aplikasi Netflix.
Tekan ikon Play pada judul yang kamu ingin tonton.
Untuk TV shows atau series, kamu pertama-tama harus memilih acara yang akan ditonton, baru kemudian menekan tombol Play di episode yang ingin ditonton.
Android phone atau tablet
Pilih ikon Download dari dalam aplikasi Netflix.
Tekan ikon Play pada judul yang kamu ingin tonton.
Untuk TV shows atau series, kamu pertama-tama harus memilih acara yang akan ditonton, baru kemudian menekan tombol Play di episode yang ingin ditonton.
Amazon Fire tablet
Pilih ikon Download dari dalam aplikasi Netflix.
Tekan ikon Play pada judul yang kamu ingin tonton.
Untuk TV shows atau series, kamu pertama-tama harus memilih acara yang akan ditonton, baru kemudian menekan tombol Play di episode yang ingin ditonton.
Windows 10 tablet atau komputer
Buka aplikasi Netflix dan tekan ikon Menu .
Pilih My Downloads.
Tekan ikon Play di judul yang kamu ingin tonton.
Untuk TV shows atau series, kamu pertama-tama harus memilih acara yang akan ditonton, baru kemudian menekan tombol Play di episode yang ingin ditonton.
Cara menghapus film atau series Netflix yang sudah didownload
Ketika kamu sudah selesai menonton sebuah film atau series yang didownload, kamu bisa menghapusnya dari gadgemu; jika kamu memang tidak ingin menyimpannya.
iPhone, iPad, atau iPod Touch
Cara menghapus satu judul download dari gadget iOS:
Tekan Download.
Tekan Edit di bagian kanan atas layar.
Tekan ikon X merah untuk menghapus judul dari gadget.
Cara menghapus semua file yang sudah didownload dari gadget iOS:
Pilih ikon Menu .
Scroll ke bawah dan pilih App Settings.
Pilih Delete All Downloads.
Di layar konfirmasi, pilih Delete.
Seluruh judul yang sudah didownload akan terhapus.
Android phone atau tablet
Cara menghapus satu judul download dari gadget Android:
Pilih Downloads.
Pilih ikon edit di bagian kanan atas layar kamu.
Pilih judul yang kamu ingin hapus di kotak di samping judul.
Pilih ikon Delete untuk menghapus judul dari gadget.
Cara menghapus semua file yang sudah didownload dari gadget Android:
Pilih ikon Menu .
Scroll ke bawah dan pilih App Settings.
Pilih Delete All Downloads.
Di layar konfirmasi, pilih Delete.
Seluruh judul yang sudah didownload akan terhapus.
Amazon Fire Tablet
Cara menghapus satu judul download dari gadget:
Pilih Downloads.
Pilih ikon edit di bagian kanan atas layar kamu.
Pilih judul yang kamu ingin hapus di kotak di samping judul.
Pilih ikon Delete untuk menghapus judul dari gadget.
Cara menghapus semua file yang sudah didownload dari gadget:
Pilih ikon Menu .
Scroll ke bawah dan pilih App Settings.
Pilih Delete All Downloads.
Di layar konfirmasi, pilih Delete.
Seluruh judul yang sudah didownload akan terhapus.
Windows 10 tablet or Computer
Cara menghapus satu judul download dari gadget Windows 10:
Klik atau pilih ikon Menu .
Pilih My Downloads.
Klik atau pilih ikon Edit di bagian kanan atas layar kamu.
Pilih judul yang kamu ingin hapus di kotak di samping judul.
klik atau pilih ikon Delete untuk menghapus judul dari gadget.
Cara menghapus satu judul download dari gadget Windows 10:
Klik atau pilih ….
Pilih Setting
Pilih Delete All Downloads.
Di layar konfirmasi, pilih Delete.
Seluruh judul yang sudah didownload akan terhapus.
Catatan: Beberapa gadget juga memungkinkan Smart Downloads, sebuah fitur yang akan menghapus sebuah episode yang sudah didownload setelah selesai ditonton. Lalu akan otomatis mendownload episode berikutnya dari series tersebut.
Catatan: Jika kamu sudah menutup akun dan ingin menghapus judul yang sebelumnya sudah didownload, kamu bisa menghapus aplikasi Netflix untuk menghapus konten yang sudah didownload di gadget.
Cara menghapus seluruh hasil download di gadget
Tergantung dengan paket yang kamu pilih, kamu bisa memiliki satu, dua, atau empat gadget dengan judul yang sudah didownload di dalamnya setiap saat. Jika kamu melihat sebuah pesan bahwa kamu sudah mendownload di banyak gadget, kamu bisa menghapus seluruh download dari satu atau banyak gadget dengan mengikuti langkah di bawah ini, walaupun kamu tidak lagi memiliki gadget tersebut. Ketika kamu menghapus sebuah gadget, seluruh download di gadget tersebut akan dihapus.
iPhone, iPad, atau iPod Touch
Masuk ke Netflix lewat situs browser handphone.
Klik atau pilih ikon Menu .
Pilih Account.
Scroll ke bawah dan pilih Manage Download Devices.
Pilih Remove Device di gadget yang kamu ingin hapus.
Android phone atau tablet
Dari Netflix.com, klik atau tap ikon Menu .
Pilih Account.
Scroll ke bawah dan pilih Manage Download Devices.
Pilih Remove Device di gadget yang kamu ingin hapus.
Amazon Fire tablet
Dari Netflix.com, klik atau tap ikon Menu .
Pilih Account.
Scroll ke bawah dan pilih Manage Download Devices.
Pilih Remove Device di gadget yang kamu ingin hapus.
Windows 10 tablet atau komputer
Klik atau pilih ….
Pilih Settings.
Pilih Account Details.
Scroll ke bawah dan pilih Manage Download Devices.
Pilih Remove Device di gadget yang kamu ingin hapus.
Cara mengganti kualitas video Netflix yang didownload
Kamu bisa memilih kualitas video download yang cocok dengan kebutuhanmu. Kualitas standar sedikit memiliki kualitas lebih rendah yang membutuhkan lebih sedikit ruang penyimpanan dan lebih sedikit waktu untuk mendownload. Kualitas yang lebih tinggi, hingga 1080p tergantung dari judul yang didownload, membutuhkan lebih banyak ruang penyimpanan dan perlu lebih banyak waktu untuk mendownload.
iPhone, iPad, atau iPod Touch
Masuk ke Netflix lewat situs browser handphone.
Klik atau pilih Menu icon .
Scroll ke bawah dan pilih App Settings.
Di bawah judul Download, pilih Video Quality.
Pilih kualitas video Standard atau Higher.
Android phone or tablet
Dari aplikasi Netflix, pilih ikon Menu .
Scroll ke bawah dan pilih App Settings.
Di bawah judul Download, pilih Video Quality.
Pilih kualitas video Standard atau Higher.
Catatan: Gadget Android harus bisa melakukan Netflix dalam HD untuk bisa memilih kualitas video. Pelajari lebih lanjut tentang ini di Android HD-capable models.
Amazon Fire tablet
Dari aplikasi Netflix, pilih ikon Menu .
Scroll ke bawah dan pilih App Settings.
Di bawah judul Download, pilih Video Quality.
Pilih kualitas video Standard atau Higher.
Catatan: Gadget Amazon Fire harus bisa melakukan Netflix dalam HD untuk bisa memilih kualitas video. Pelajari lebih lanjut tentang ini di Amazon Fire HD-capable models.
Windows 10 tablet atau komputer
Dari aplikasi Netflix, pilih ….
Pilih Settings.
Di bawah judul Download, pilih Video Quality.
Pilih kualitas video Standard atau Higher.
Cara mengganti audio dan subtitle yang sudah didownload
SEbuah TV show atau film akan didownload dengan pilihan audio dan subtitle yang sama ketika didownload. Kamu bisa mengatur setting audio atau subtitle sebelum mendownload. Atau hapus file download, atur setting audio atau subtitle, dan download lagi judul tersebut.
Cara mengatur lokasi penyimpanan Android
Gadget Android dengan SD card yang terpasang akan menyimpan file download di sana.
Dari aplikasi Netflix, pilih ikon Menu .
Scroll ke bawah dan pilih App Settings.
Di bawah judul Downloads, pilih Download Location.
Pilih di mana kamu ingin menyimpan hasil download.
Catatan: Langkah ini akan mengganti lokasi penyimpanan download di masa depan. Judul yang sudah didownload sebelumnya akan tetap tersimpan di tempat sebelumnya.
Download mempengaruhi penggunaan data dan kuota?
Download dan streaming film atau TV Series Netflix memakan data dan kuota. Jika kamu tidak ingin memakan data dan kuota yang besar, maka sebaiknya menghubungkan gadget dengan Wi-Fi sebelum melakukan download. Lihat Pusat Bantuan Netflix tentang pengguaan data untuk informasi lebih lanjut.
Jumlah judul film dan series Netflix yang bisa didownload
Saat ini kamu bisa menyimpan hingga 100 judul di dalam sebuah gaget kapanpun. Jika kamu mencoba untuk menyimpan lebih dari 100 judul, maka hal ini akan memunculkan eror.
Catatan: jumlah judul yang bisa didownload ini juga sangat tergantung pada kapasitas penyimpanan gadget yang tersedia. Tidak semua gadget bisa menyimpan hingga 100 judul download.
Batas frekuensi download suatu judul
Beberapa judul hanya bisa didownload dengan jumlah yang terbatas setiap tahunnya karena adanya hak lisensi dari judul tersebut. Jika kamu mencoba mendownload sebuah judul setelah judul tersebut melewati batas download, kamu akan menerima pesan eror bahwa kamu sudah melewati batas.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang konten berlisensi, kunjungi link berikut.
Batas jumlah gadget yang bisa digunakan untuk mendownload
Jumlah maksimum dari gadget yang bisa digunakan untuk mendownload sama dengan jumlah layar yang kamu bisa tonton Netflix secara bersamaan. Tergantung pada jenis langganan. Misalnya, jenis langganan untuk 2 layar, bisa digunakan untuk mendowload di 2 gadget.
Jika kamu sudah mendownload di gadget maksimum yang diperkenankan untuk jenis langgananmu, kamu harus menghapus seluruh download paling tidak di satu gadget. Sebelum kamu bisa mendownload di gadget baru.
Notifikasi download akan berakhir
Setelah kamu mendownload suatu judul di gadget, kamu punya batas waktu untuk menonton judul tersebut sebelum berakhir. Judul yang akan berakhir kurang dari 7 hari akan menunjukkan informasi sisa waktu untuk menontonnya. Ketika judul tersebut sudah tidak lagi tersedia di Netflix, judul tersebut akan berakhir dan kamu tidak akan bisa menontonnya lagi. Lihat Pusat Bantuan untuk informasi lebih lanjut kenapa download berakhir dan bagaimana cara memperbarui download.
Menonton film atau TV Series Netflix ketika menutup akun
Tidak bisa. Saat kamu menutup akun Netflix, maka kamu tidak akan bisa menonton kembali film dan TV series yang sudah didownload.
***
Itu dia beragam hal tentang cara download film dan TV series Netflix yang perlu kamu tahu. Dengan fitur ini, kamu tinggal mencari Wi-Fi, mendownload, dan menonton di lain waktu tanpa harus mengkhawatirkan penggunaan data dan kuota yang membengkak.
Ketika orang mencari film semi Korea, biasanya yang muncul di kepala adalah film dengan unsur sensualitas atau cerita hubungan orang dewasa. Namun, istilah “film semi” sendiri sebenarnya cukup longgar, terutama di Indonesia. Dalam konteks sinema, banyak film yang sering disebut film semi Korea sebenarnya lebih tepat disebut sebagai drama dewasa, thriller psikologis, atau film Korea bertema relasi kompleks.
Ini penting untuk dibedakan. Karena tidak semua film bertema dewasa dibuat hanya untuk menjual unsur sensual. Beberapa justru punya cerita kuat, penyutradaraan matang, akting solid, dan tema yang lebih dalam, mulai dari perselingkuhan, obsesi, relasi kuasa, trauma, kelas sosial, sampai intrik politik.
Perfilman Korea Selatan memang dikenal kuat dalam membangun cerita emosional dan karakter yang rumit. Tidak heran kalau beberapa film bertema dewasa dari Korea tetap menarik dibahas bukan hanya karena kontroversinya, tetapi juga karena kualitas sinematiknya.
Artikel ini akan membahas beberapa film semi Korea yang lebih layak dilihat sebagai film dewasa dengan nilai cerita, bukan sekadar tontonan sensasional. Tentu saja, sebagian besar judul dalam daftar ini ditujukan untuk penonton dewasa, jadi tetap perhatikan rating usia sebelum menonton.
Daftar Isi
Apa Itu Film Semi Korea?
Secara populer, film semi Korea adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut film Korea Selatan dengan tema dewasa, relasi intim, atau konflik emosional yang lebih matang. Namun, dalam dunia film, istilah ini bukan kategori resmi.
Beberapa film dalam kategori ini bisa masuk ke genre drama, thriller, romance, horor, atau historical drama. Unsur dewasa di dalamnya biasanya digunakan untuk memperkuat konflik karakter, bukan selalu menjadi pusat cerita.
Karena itu, cara terbaik untuk menonton film seperti ini adalah dengan melihat konteksnya. Apa yang ingin dibahas filmnya? Apakah tentang cinta, kekuasaan, trauma, pernikahan, atau ambisi? Kalau cuma mencari kontroversinya, kamu mungkin justru melewatkan bagian paling menarik dari film tersebut. Sebuah kejadian klasik manusia: datang mencari sensasi, pulang kehilangan substansi.
Rekomendasi Film Semi Korea dan Drama Dewasa Korea
A Good Lawyer’s Wife adalah drama Korea karya Im Sang-soo yang membahas pernikahan, perselingkuhan, dan kehampaan emosional dalam kehidupan keluarga kelas menengah. Film ini tidak melihat rumah tangga sebagai ruang yang selalu hangat, tetapi sebagai tempat yang bisa menyimpan jarak, kebosanan, dan luka.
Yang membuat film ini menarik adalah caranya menggambarkan karakter yang sama-sama rapuh dan egois. Unsur dewasa dalam film ini hadir sebagai bagian dari konflik pernikahan, bukan sekadar pemanis. Ceritanya cukup getir, apalagi karena keputusan para karakternya membawa konsekuensi yang tidak ringan.
The Scarlet Letter (2004)
Original Title: Juhong geulshi Sutradara: Byun Hyuk Pemain: Han Suk-kyu, Lee Eun-ju, Sung Hyun-ah, Uhm Ji-won Genre: Drama, Mystery Thriller Durasi: 118 menit
The Scarlet Letter memadukan drama, misteri, dan thriller psikologis. Ceritanya mengikuti seorang detektif yang terjebak dalam kasus pembunuhan sekaligus hubungan emosional rumit dengan beberapa perempuan dalam hidupnya.
Film ini dikenal sebagai salah satu film Korea bertema dewasa yang cukup kontroversial pada masanya. Namun, dari sisi cerita, hal paling menarik adalah bagaimana film ini menggambarkan obsesi, rasa bersalah, dan kehidupan ganda. Ketegangannya bukan hanya datang dari kasus kriminal, tetapi juga dari kehancuran pribadi yang perlahan mendekati tokoh utamanya.
A Frozen Flower (2008)
Original Title: Ssang-hwa-jeom Sutradara: Yoo Ha Pemain: Jo In-sung, Joo Jin-mo, Song Ji-hyo Genre: Drama, History, Romance Durasi: 132 menit
Berlatar era Dinasti Goryeo, A Frozen Flower adalah film historis yang menggabungkan politik kerajaan, cinta terlarang, dan relasi kuasa. Film ini mengikuti hubungan rumit antara raja, pengawal kepercayaannya, dan ratu dalam lingkungan istana yang penuh intrik.
Sebagai film Korea bertema dewasa, A Frozen Flower cukup kuat karena tidak hanya mengandalkan kontroversi. Ceritanya punya konflik emosional yang jelas, produksi megah, dan penampilan para aktor yang serius. Film ini juga menarik karena memperlihatkan bagaimana cinta dan kekuasaan bisa saling merusak ketika berada dalam sistem yang penuh tekanan.
Portrait of a Beauty (2008)
Original Title: Miindo Sutradara: Jeon Yun-su Pemain: Kim Min-sun, Kim Young-ho, Kim Nam-gil Genre: Drama, Romance Durasi: 108 menit
Portrait of a Beauty adalah drama sejarah yang diadaptasi dari novel Painter of the Wind karya Lee Jung-myung. Film ini mengangkat kisah seorang perempuan yang harus hidup dengan identitas laki-laki demi menjaga nama keluarga dan meneruskan tradisi seni lukis.
Film ini menarik karena membahas identitas, kebebasan pribadi, dan posisi perempuan dalam masyarakat yang sangat patriarkal. Unsur dewasa dalam ceritanya hadir dalam konteks pencarian diri dan keterbatasan sosial. Secara visual, Portrait of a Beauty juga cukup indah, terutama dalam cara film ini menghubungkan tubuh, seni, dan ekspresi personal.
Thirst (2009)
Original Title: Bakjwi Sutradara: Park Chan-wook Pemain: Song Kang-ho, Kim Ok-bin, Kim Hae-sook, Shin Ha-kyun Genre: Drama, Fantasy, Horror Durasi: 134 menit
Disutradarai Park Chan-wook, Thirst adalah salah satu film Korea paling unik dalam daftar ini. Film ini menggabungkan horor vampir, drama religius, komedi gelap, dan kisah hasrat manusia yang tidak terkendali. Ceritanya mengikuti seorang pendeta yang berubah setelah eksperimen medis yang gagal.
Sebagai film bertema dewasa, Thirst tidak hanya membahas relasi fisik, tetapi juga konflik iman, rasa bersalah, dan perubahan moral. Park Chan-wook membuat film ini terasa ganjil, gelap, dan kadang absurd. Bukan tontonan paling mudah, tapi jelas salah satu yang paling menarik secara sinematik.
The Housemaid (2010)
Original Title: Hanyo Sutradara: Im sang-soo Pemain: Jeon Do-yeon, Lee Jung-jae, Seo Woo, Youn Yuh-jung Genre: Drama, Thriller Durasi: 107 menit
The Housemaid adalah remake dari film klasik Korea tahun 1960 berjudul sama. Versi 2010 ini disutradarai Im Sang-soo dan mengikuti seorang asisten rumah tangga yang masuk ke kehidupan keluarga kaya, lalu terlibat dalam konflik yang menghancurkan batas antara kelas sosial, kekuasaan, dan hasrat.
Film ini lebih tepat dilihat sebagai thriller sosial dibanding sekadar film semi Korea. Ketegangannya muncul dari ketimpangan posisi antar karakter. Orang kaya punya kuasa, sementara mereka yang berada di bawah harus menanggung akibatnya. The Housemaid tajam, dingin, dan cukup efektif sebagai kritik terhadap kemewahan yang busuk dari dalam.
The Taste of Money (2012)
Original Title: Donui mat Sutradara: Im Sang-soo Pemain: Kim Kang-woo, Youn Yuh-jung, Kim Hyo-jin, Baek Yoon-sik Genre: Drama, Thriller Durasi: 115 menit
Masih dari Im Sang-soo, The Taste of Money bisa dibilang sebagai film tentang keluarga kaya yang tampak elegan dari luar, tetapi menyimpan intrik, manipulasi, dan kerakusan. Ceritanya mengikuti seorang pria muda yang bekerja untuk keluarga konglomerat dan perlahan terseret dalam permainan kekuasaan mereka.
Film ini memakai tema dewasa untuk menggambarkan hubungan antara uang, tubuh, dan kontrol. Tidak semua bagiannya halus, tapi sebagai kritik sosial, film ini cukup menarik. Ia memperlihatkan bagaimana kekayaan ekstrem bisa menciptakan dunia yang penuh transaksi, termasuk dalam hubungan personal.
The Concubine (2012)
Original Title: Hugoong: Jewangui Chub Sutradara: Kim Dae-seung Pemain: Jo Yeo-jeong, Kim Min-jun, Kim Dong-wook, Park Ji-young Genre: Romantic Historical Durasi: 122 menit
The Concubine adalah film historical drama berlatar Dinasti Joseon. Ceritanya berpusat pada cinta segitiga, ambisi kerajaan, dan perebutan kuasa di lingkungan istana. Seperti banyak film sejarah Korea, intrik politik menjadi bagian penting dari cerita.
Yang membuat The Concubine menarik adalah caranya memadukan drama personal dengan tekanan sistem kerajaan. Relasi antar karakter tidak pernah benar-benar bebas dari kekuasaan. Film ini punya elemen dewasa, tetapi kekuatan utamanya ada pada konflik emosional dan politik yang membuat para karakternya sulit keluar dari nasib mereka.
The Handmaiden (2016)
Original Title: Agassi Sutradara: Park Chan-wook Pemain: Kim Min-tae, Kim Tae-ri, Ha Jung-woo, Cho Jin-woong Genre: Psychological Thriller Durasi: 145 menit
Kalau harus memilih satu film Korea bertema dewasa yang paling kuat secara sinematik, The Handmaiden jelas masuk daftar teratas. Disutradarai Park Chan-wook, film ini menggabungkan thriller psikologis, romansa, penipuan, dan kritik terhadap kuasa patriarki.
Ceritanya mengikuti seorang perempuan muda yang dipekerjakan sebagai pelayan untuk bangsawan Jepang, tetapi ternyata terlibat dalam rencana penipuan yang jauh lebih rumit. Struktur ceritanya berlapis, visualnya elegan, dan twist-nya sangat memuaskan. The Handmaiden membuktikan bahwa film bertema dewasa bisa tetap cerdas, indah, dan punya bobot naratif yang kuat.
Kenapa Film Semi Korea Sering Menarik Dibahas?
Film semi Korea atau drama dewasa Korea biasanya tidak hanya membahas hubungan romantis. Banyak yang memakai relasi dewasa sebagai pintu masuk untuk membahas hal lain yang lebih besar, seperti keluarga, kelas sosial, agama, politik, dan kontrol tubuh.
Korea Selatan juga punya tradisi kuat dalam membuat thriller psikologis. Karena itu, film-film bertema dewasa dari Korea sering terasa lebih intens. Ceritanya tidak berhenti pada hubungan antar karakter, tapi berkembang menjadi konflik moral dan sosial yang lebih rumit.
Itulah yang membuat beberapa judul di atas tetap relevan untuk dibahas. Bukan karena sensasinya, tapi karena cara film-film tersebut menggambarkan manusia yang terjebak dalam hasrat, ambisi, dan keputusan buruk. Lagi-lagi manusia membuat masalah, lalu sinema mengabadikannya. Setidaknya hasilnya kadang bagus.
Tips Menonton Film Korea Bertema Dewasa
Sebelum menonton film-film dalam daftar ini, sebaiknya kamu memperhatikan rating usia dan tema yang diangkat. Beberapa film punya materi yang cukup berat, termasuk perselingkuhan, trauma, kekerasan, ketimpangan kelas, dan relasi kuasa.
Kalau kamu ingin menikmatinya sebagai film, fokuslah pada cerita, karakter, visual, dan konteks sosialnya. Dengan begitu, kamu tidak hanya menonton karena rasa penasaran, tapi juga bisa memahami kenapa film tersebut dibicarakan dalam sejarah sinema Korea.
Istilah film semi Korea memang populer, tetapi tidak selalu akurat. Banyak film yang masuk kategori ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai drama dewasa, thriller psikologis, atau film Korea bertema relasi kompleks.
Dari A Good Lawyer’s Wife, Thirst, The Housemaid, sampai The Handmaiden, film-film di atas menunjukkan bahwa tema dewasa dalam sinema Korea bisa digunakan untuk membahas banyak hal. Bukan hanya hubungan intim, tetapi juga kekuasaan, rasa bersalah, identitas, dan struktur sosial.
Kalau kamu mencari film Korea yang lebih matang, gelap, dan penuh konflik emosional, daftar ini bisa jadi titik awal. Tapi tetap ingat, film-film ini ditujukan untuk penonton dewasa dan sebaiknya ditonton dengan kesadaran konteks, bukan sekadar karena judulnya sering muncul dalam pencarian film semi Korea.
Di era sekarang, menonton serial TV dan film favorit tentu sangat mudah. Kita hanya tinggal duduk manis dan menikmati website nonton film online dari layar laptop atau smartphone tanpa harus ke bioskop. Tanpa harus menunggu jadwal tayang.
Kini, kita juga tidak perlu membayar mahal untuk menonton film dan TV. Karena ada banyak jasa streaming service untuk nonton film online yang menyediakan film-film berkualitas. Baik dari dalam maupun luar negeri.
Dengan nonton film secara online di situs yang terpercaya, maka kita juga ikut mendukung para pelaku perfilman. Karena kita menontonnya secara legal. Tanpa membajak. Tidak melanggar hukum.
Untuk itu, untuk kamu yang ingin nonton film dan juga TV series online, berikut adalah situs dan aplikasi yang bisa kamu gunakan. Setiap situs atau aplikasi ini memiliki beragam pilihan acara, dan biasanya berbeda di setiap platformnya.
Karenanya kamu perlu untuk memilih platform mana yang paling cocok dengan selera kamu.
Daftar Isi
Daftar website nonton film online
Netflix
Yang pertama dan yang bisa dibilang paling populer adalah Netflix.
Kepopulerannya bukan tanpa alasan. Selain memiliki beberapa film dan series legendaris di dalamnya, Netflix juga memiliki banyak konten original sendiri.
Kontennya terbilang cukup lengkap dengan beragam pilihan genre. Mulai dari film action, komedi, animasi, drama, sampai dokumenter.
Bahkan kontennya pun bukan hanya film dari Hollywood, tapi juga film-film dari beragam negara lain seperti Spanyol, Jerman, Korea, sampai Indonesia.
Nonton apa di Netflix:
Stranger Things, Money Heist, The Witcher, Marriage Story, The Irishman, You, Dark, Elite, Breaking Bad, Better Call Saul, Sherlock, Black Mirror, Narcos, Mindhunter, Ozark, Mad Men, House of Cards, When They See Us, The Crown, American Crime Story, etc.
Harga langganan Netflix:
Mulai dari Rp49.000/bulan (Ponsel/mobile); Rp109.000/bulan (Basic); Rp139.000/bulan (Basic)
Hulu
Hulu adalah streaming service yang cocok untuk mereka yang mencari beragam acara on-demand. Ada banyak acara di dalamnya. Karena Hulu sendiri sebenarnya merupakan joint venture dari stasiun TV besar: NBC Universal, Fox Broadcasting, dan Disney-ABC.
Hulu adalah website nonton film online yang menyenangkan. Ia emang tidak memiliki konten original seperti Netflix. Tapi hal tersebut tidak masalah karena beragam acara yang tersedia juga berkualitas tinggi.
Nonton apa di Hulu:
Rick and Morty, The Path, The Handmaid’s Tale, Runaways, Family Guy, Law and Order, Gotham, Vikings, The Simpsons, Brooklyn Nine-Nine, Lost, Parks and Recreation, Modern Family, One-Punch Man, Prison Break, The Good Place, How I Met Your Mother, Atlanta, etc.
Hargalangganan Hulu:
$5.99/bulan (Hulu), $11.99/bulan (Hulu No Ads), $54.99/bulan (Hulu + Live TV)
HBO Max
Tidak diragukan lagi jika HBO adalah juara dari konten original. Karenanya, berlangganan dan nonton film online di HBO Max akan sangat menguntungkan. Kita bisa menikmati banyak konten original HBO, maupun film dan acara TV lainnya. Bicara jumlah acara, tentu saja HBO belum menyaingin Netflix, tapi bicara kualitas, HBO Max berani diadu.
Nonton apa di HBO Max:
Justice League Snyder Cut (2021), Harry Potter Series, Band of Brothers, The Big Bang Theory, Boardwalk Empire, Chernobyl, Doctor Who, Friends, Game of Thrones, Six Feet Under, The Sopranos, True Detective, Veep, Watchmen, The Wire, etc.
Harga langganan HBO Max:
$15/bulan
Disney+
Disney+ bisa menjadi pilihan terbaik bagi mereka yang menyenangi beragam hal tentang kultur pop. Bagaimana tidak, konten Disney+ diisi oleh banyak konten yang digemari pecinta film dengan fanbase yang besar. Mulai dari film-film Pixar, Star Wars, Marvel Cinematic Universe, film-film klasik Disney, hingga beragam acara lainnya.
Nonton apa di Disney+:
Pixar movies, Disney Animated films, Marvel Cinematic Universe films and tv shows, Star Wars universe, etc.
Harga langganan Disney+:
$5-7/bulan
Amazon Prime Video
Bisa dibilang Amazon Prime Video memiliki kepopuleran yang hampir sama dengan Netflix. Mereka tidak identik memang, tapi layanan yang diberikan dan juga konten yang disajikan hampir sama lengkapnya. Beragam pilihan ada di sini. Tidak hanya itu, konten original dari seperti series Amazon Prime Video juga tidak kalah kualitasnya dari Netflix.
Nonton apa di Amazon Prime Video:
The Marvelous Mrs. Maisel, The Boys, Modern Love, Downtown Abbey, Upload, House, Mr. Robot, Suits, Hannibal, Fleabag, 30 Rock, American Horror Story, etc.
Harga langganan Amazon Prime Video:
Rp85.000/bulan
YouTube TV
Tidak diragukan lagi jika YouTube telah merevolusi dunia konten video di Internet. Dan kini, mereka hadir dengan YouTube TV. Konten video gratis di YouTube tentu akan tetap memiliki banyak penggemarnya sendiri. Tapi jika kalian mencari konten yang berkualitas, YouTube TV bisa dijadikan pilihan. Ada banyak program original yang ditawarkan. Tapi sayangnya, jasa mereka masih terbatas di Amerika Serikat dan memiliki harga langganan yang cukup mahal. Kita juga bisa nonton film gratis walau bukan di YouTube TV.
Nonton apa di YouTube TV:
BTS: Burn the Stage, Cobra Kai, Impulse, Step Up: High Water, Wayne, Liza on Demand, etc.
Harga langganan YouTube TV:
$35/bulan
Apple TV+
Tidak hanya menguasai pasar ponsel, laptop, komputer, dan TV pintar, kini Apple juga merambah dunia konten streaming. Dan tidak tanggung-tanggung, sejak diluncurkan tahun lalu, sudah banyak program original yang berkualitas tinggi dan menghibur. Memang saat ini kontennya belum terlalu banya dan lengkap untuk para pecinta film atau series, tapi di masa depan, Apple TV+ bisa menjadi kompetitor nonton film online yang besar.
Nonton apa di Apple TV+:
The Morning Show, Dickinson, For All Mankind, Helpsters, Ghostwriter, Oprah’s Book Club, The Elephant Queen, Servant, Truth Be Told, Little America, Hala, The Banker, Home Before Dark, Beastie Boys Story, Defending Jacob, Dear…,
Harga langganan Apple TV+:
1 year free (Apple device users); Rp69.000/bulan
Sony Crackle
Streaming film dan TV series tidak perlu mahal. Dengan yang gratis pun, kita bisa nonton film gratis dengan legal. Salah satunya melalui Sony Crackle. platform streaming ini menawarkan film dan serial yang dirotasi setiap bulannya. Terkadang, pilihan acaranya bagus. Tapi tidak sering juga membuat pusing kepala. Ditambah lagi, gambar yang disajikan hanya berupa standard definition dengan iklan kecil di bawah layar. Tapi, tetap menjadi pilihan bagi yang tidak memiliki budget menonton film.
Nonton apa di Sony Crackle:
Comedians in Cars Getting Coffee, StartUp, Heroes, Merlin, Hell’s Kitchen, Pan Am, Snatch, Starsky & Hutch, The Company, Last Resort, The Tick, Kitchen Nightmares, etc.
Harga langganan Sony Crackle:
Free/Gratis
Tubi TV
Dari smartphone maupun tablet, kita bisa nonton film gratis dan beragam acara yang ada di Tubi TV. Memang layanan ini tidak memiliki terlalu banyak konten. Hanya saja, karena harganya yang gratis, bukan tidak mungkin jika Tubi TV dijadikan pilihan. Lagi pula, acara yang disediakan juga memiliki kualitas yang oke.
Nonton apa di Tubi TV:
Attack on Titan, The IT Crowd, Mr. Bean, Death Note, Naruto, Peep Show, Hunter x Hunter, Marco Polo, 21 Jump Street, ALF, Shameless, Saint Seiya, etc.
Harga langganan Tubi TV:
Free
Catchplay+
Catchplay+ memiliki konten yang berkualitas. Terutama dari Hollywood. Selain itu, platform ini juga bisa dijadikan pilihan bagi para pecinta serial Mandarin. Sayangnya Catchplay bisa dibilang tidak memiliki konten yang cukup banyak alias kurang variatif dibandingkan dengan platform streaming lainnya.
Nonton apa di Catchplay+:
The Lord of the Rings, Into the Wild, Sing Street, Sonic the Hedgehog, Detective Pikachu, Departure, The Magicians, Knight Rider, The World Between Us, etc.
Harga langganan Catchplay+:
Rp60.000/bulan
MAXstream
MAXstream adalah aplikasi streaming beragam acara secara online. Kapan pun dan di mana pun, selama terkoneksi dengan Internet, kita bisa menikmati layanan MAXstream. Acara yang ditawarkan beragam mulai dari series, acara olahraga, sampai beragam kartun dari Nickelodeon.
Nonton apa di Maxstream:
Battle of Surabaya, CLBK the Series, Nawangsih the Series, Klinik Baper, Unscripted Man the Series, Nickelodeon Play, etc.
Harga langganan Maxstream:
Rp69.000 – Rp149.000/bulan
Viu
Viu adalah aplikasi streaming yang cukup dikenal banyak penggemar drama Korea (drakor). Tidak heran karena memang Viu menyediakan banyak drakor berkualitas. Tapi, sebenarnya Viu juga menyediakan beragam film. Mulai dari film barat, Mandarin, Thailand, hingga Bollywood. Ada juga beberapa judul film dalam negeri yang bisa ditonton di sini.
Nonton apa di Viu:
Pretty Little Liars, Reply 1988, What’s Wrong with Secretary Kim, One Sunny Day, A World of Married Couple, VIP, Susah Sinyal, Dua Garis Biru, etc.
Harga langganan Viu:
Rp30.000 – Rp200.000 (1 bulan – 1 tahun)
Vidio
Untuk para penonton Indonesia, Vidio bisa dibilang menyajikan konten yang cukup lengkap. Mulai dari sepak bola berita, ftv, sampai sinetron ada di sini. Selain itu, terdapat juga beragam drakor yang diserbu para penggemarnya. Film Indonesia berkualitas seperti Pendekar Tongkat Emas atau Gundala juga bisa dinikmati di Vidio.
Nonton apa di Vidio:
Still 17, W: Two Worlds Apart, The Legend of Blue Sea, About Time, Tomorrow with You, Pinocchio, While You Were Sleeping, Sang Kiai, Soekarno, Pendekar Tongkat Emas, Gundala, Train to Busan, Ngenest, Parasite, etc.
Harga langganan Vidio:
Rp10.000 – Rp50.000 (1 hari – 1 bulan)
Iflix
Platform streaming ini mungkin bisa menjadi pilihan banyak orang karena menawarkan konten yang beragam. Mulai dari film Indonesia sampai dengan Korean Drama, semua ada. Tidak hanya itu, sebenarnya kita bisa nonton film gratis di Iflix. Hanya saja, tidak semua konten yang tersedia bisa dinikmati gratis. Kita perlu menjadi VIP untuk beberapa konten premium; yang tentunya lebih berkualitas dari konten gratis.
Nonton apa di Iflix:
Orang Kaya Baru, Calon Bini, Preman Pensiun, Kuntilanak, Mantan Manten, 5 cm, Secret Affair, Supernatural, Rich Man, When We Were Young, etc.
Harga langganan iflix:
Rp39.000/bulan
***
Jangan lupa untuk terus menjelajahi dunia hiburan di menonton.id, di mana kamu bisa menemukan artikel-artikel menarik tentang film, serial TV, dan berita hiburan lainnya. Ikuti juga kami di media sosial seperti Twitter, Instagram, Facebook, YouTube,TikTok, dan Google News untuk mengetahui berita dan rekomendasi terbaru tentang film.